Recent Posts

Keren, Trenggalek Satu-satunya Wakil Asia Ikuti Program Harvard

Trenggalek - Kabupaten Trenggalek terpilih sebagai satu-satunya daerah di Indonesia untuk mengikuti program inovasi dan tata kelola pemerintahan tingkat dunia yang digelar di News York, Amerika Serikat. 

Dalam program yang diselenggerakan oleh Bloomberg Harvard City Leadership Initiative tersebut, Trenggalek akan bergabung dengan berbagai kota ternama di seluruh belahan dunia, untuk mendapatkan pendampingan selama setahun penuh. 

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, daerahnya ditunjuk langsung oleh Universitas Harvard setelah dilakukan seleksi ketat dengan berbagai daerah lain. Dalam proses itu ia diminta untuk membuat esai dan pemaparan tentang konsep inovasi yang sudah maupun akan dilakukan. 

"Kebetulan itu terjadi saat saya melakukan cuti kampanye kemarin, seleksinya itu by invitation only, artinya yang diundang itu hasil penelusuran Bloomberg dan Universitas Harvard. Saya diminta untuk membuat esai itu dan Alhamdulillah diterima," ujarnya, Senin (16/7/2018).

Ia menilai kegiatan tersebut cukup spesial, karena dari 40 kota yang terpilih hanya Kabupaten Trenggalek yang berkesempatan untuk mewakili Indonesia, bahkan merupakan satu-satunya daerah dari kawasan Benua Asia. 

Suami Arumi Bachsin ini menambahkan, dalam program yang digagas Universitas Harvard dan perusahaan Bloomberg milik mantan Walikota New York, Michael Rubens Bloomberg itu mereka memilih daerah dan kepala daerahnya yang memiliki rumusan pola tata kelola pemerintahan maupun inovasi daerah secara global. 

"Melalui inisiatif ini, maka Harvard akan mendampingi selama setahun daerah-daerah untuk diupgrade oleh senior-seniornya dan dikolaborasikan dengan 40 daerah dari seluruh dunia yang terpilih," kata Emil. 

Pada tahap pertama, Calon Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih ini terbang langsung ke New York untuk mendapatkan pembekalan dari Universitas Harvard dan Bloomberg. Selanjutnya ia juga akan menunjuk dua pejabat di daerahnya untuk mengikuti program tersebut pada Agustus mendatang.

"Program sudah dimulai sejak 22 Mei lalu dan terus berlanjut. Selama program berjalan akan dilakukan kolaborasi melalui sistem IT mereka yang dinamakan Global Exchange," imbuhnya. 

Pihaknya berharap terpilihnya Trenggalek akan memberikan dampak positif terhadap program pengembangan, inovasi dan mampu menggenjot motivasi para aparatur pemerintah untuk bekerja secara maksimal dalam memajukan daerah. 

Foto : Humas Trenggalek 

BNN Trenggalek : Pesisir Selatan Rawan Peredaran Narkoba

Trenggalek - Meskipun bukan menjadi daerah produsesn narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Trenggalek terus menggenjot upaya pencegahan terhadap peredaran dan penyalahgunaan zat terlarang tersebut.

Kepala BNNK Trenggalek, AKBP Akik Subki, Kamis (12/7/2018) saat mengikuti upacara peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di Alun-alun mengatakan upaya pencegahan penting dilakukan, karena Trenggalek berpotensi menjadi pangsa pasar narkoba, terutama di wilayah pesisir selatan. 

"Saat ini daerah mana yang tidak terjamah narkoba, semuanya pasti terkontaninasi, hanya saya skalanya berbeda-beda. Trenggalek ini justru yang rawan adalah jalur selatan, hal ini terbukti dari beberapa pengungkapan yang dilakukan oleh kepolisian," kata Akik. 

Menurutnya, obat-obatan terlarang yang marak beredar di Trenggalek adalah jenis pil koplo tau dobel L. Obat-obatan tersebut seringkali disalahgunkan oleh para remaja. Berkembangnya peredaran pil koplo dipengaruhi tingginya mobilitas peduduk di kawasan wisata dan sentra perikanan. 

Ditambahkan, khusus narkoba kelas satu, seperti sabu-sabu dan ganja belum marak di wilayahnya. Meski demikian tidak menutup kemungkinan akan menjadi sasaran peredaran.

"Trenggalek ini yang banyak pemakai, makanya kami gencar melakukan upaya pencegahan dengan melakukan penyuluhan ke berbagai sektor dan kelompok-kelompok msyarakat," ujarnya. 

Selain itu, BNNK Trenggalek juga memberikan kesempatan para pemakai obat-obatan terlarang yang mengalami ketergantungan untuk dilakukan rehabilitasi, sehingga bisa terlepas dari jeratan pengaruh narkoba tersebut. 

"Kami ditargetkan 10 orang yang direhab, namun untuk sekarang baru dapat tiga orang," ujar Akik Subki. 

Warga Banyon Budidaya Lebah Madu Klanceng

Trenggalek - Berbekal rasa penasaran, sejumlah warga di Trenggalek mulai membudidayakan lebah Kelulut atau Klanceng (trigona bee) untuk diambil madunya. Proses budidaya tidaklah terlalu sulit, namun tetap membutuhkan pengawasan. 

Ratusan kotak kayu berukuran kecil tampak berjajar rapi di teras milik salah satu warga di Dusun Banyon, Desa Widoro, Kecamatan Gandusari, Trenggalek. Kotak seukuran laci mesin jahit tersebut merupakan sarang lebah Kelulut yang dibudidayakan oleh warga. 

Salah seorang peternak Kelulut, Sujarni, mengatakan proses budidaya Klanceng tersebut mulai dikembangkan oleh warga di Dusun Banyon sejak enam bulan terakhir. Saat ini terdapat sekitar lima warga yang beternak. 

"Satu rumah ada yang punya seratus sarang, ada juga yang masih puluhan. Kami belajar secara otodidak, sehingga masih terus belajar," kata Sujarni, Senin (9/7/2018). 

Proses budidaya hewan berkoloni ini berawal dari rasa penasarannya saat menemukan salah satu sarang lebah Kelulut di salah satu batang bambu. Kala itu, saat bambu dibelah terdapat madu yang cukup banyak. 

"Ternyata madunya itu lumayan banyak, bahkan satu ruas itu hampir terisi madu semua. Dari situlah kemudian saya penasaran dan mencoba mengembangkan, terlebih harga madunya lumayan mahal," jelasnya. 

Pada tahap awal, ia mengaku sempat mengalami kesulitan, terutma cara pemisahan sarang akan bisa dikembangkan menjadi beberapa koloni. Namun setelah melakukan beberapa kali percobaan, akhirnya iapun sukses membuat melakukan budidaya. 

"Awalnya itu warga lain mengejek, tapi sekarang justru sama-sama ikut mengembangkan. Kalau tahap awal sih memang ada beberapa kesulitan, tapi jangan putus asa, harus teliti dan memperhatikan betul kehidupan dari koloni itu," imbuh Sujarni. 

Beternak lebah Klanceng atau Kelulut menurutnya lebih ringan dibanding dengan ternak hewan lain, karena tidak membutuhkan perawatan yang rumit, terlebih hewan bersayap tersebut tidak membutuhkan penyediaan pakan.

"Kalau kita ternak lebah ini tidak perlu cari pakan atau beli pakan, karena lebahnya yang cari pakan sendiri. Hanya saja kita harus teliti dan selalu mengontrol perkembangannya, terutama dari serangan predator, salah satunya semut," kata Jarni. 

Untuk mendukung peternakan lebah Klanceng, ia cukup menyediakan getah pinus di dekat kandang.  Hal ini dilakukan guna mempermudah lebah dalam mencari bahan untuk proses produksi. 

"Selain itu agar produksi madunya lebih banyak, usahakan di sekitar lokasi kandang itu ditanami bunga, karena itu lumayn berpengaruh," imbuhnya. 

Sementara itu dari hasil peternakan yang dikembangkan setengah tahun terakhir, satu peternakan rata-rata mampu menghasilkan madu hingga 2 liter. Madu murni itu rata-rata dijual dengan harga Rp600 ribu per liter. 

Menurut peternak lain, Suyoto, pemasaran madu Klanceng hanya mengandalkan pesanan dari mulut ke mulut. Biasanya madu baru diunduh apabila ada pemesan yang datang langsung ke rumahnya. 

"Misalkan ada yang datang butuh setengah botol untuk mengobati sakit, baru saya ambilkan dari sarang, jadi madunya masih fresh," katanya. 

Pihaknya berharap ada proses pembinaan lebih lanjut dari instansi terkait, sehingga budidaya madu Klanceng tersebut bisa berkembang dengan baik. 

Kantor Kembali Buka, Animo Warga Urus Dokumen Kependudukan Masih Sepi


Trenggalek - Sekretaris Daerah (Sekda)  Trenggalek memastikan seluruh kantor layanan publik telah aktiv seperti biasa.  Sedangkan dari pantauan di kantor Dispendukcapil animo masyarakat yang mengurus dokumen kependudukan masih terpantau sepi. 

Pada hari pertama masuk kerja, Sekda Trenggalek bersama tim Inspektorat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di beberapa instansi. Sasaran pertama adalah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTSP), di lokasi tersebut ia memeriksa absensi seluruh pegawai serta layanan publik. 

Selanjutnya tim sidak menuju Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil). Dalam inspeksinya, Kusprigi memastikan pelayanan administrasi kependudukan telah aktiv dan berjalan seperti biasa, selain itu seluruh pegawai juga terpantau telah masuk kerja. 

"Tahap pertama ada dua kantor yang kami sidak, DPMPTSP dan Dispendukcapil, semua berjalan baik, layanan kepada masyarakat juga kembali normal," kata Kusprigianto, Kamis (21/6/2018). 

Pihaknya meminta seluruh pegawai untuk menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Masa cuti lebaran telah usai, sehingga seluruh aktivitas kantor harus kembali normal. 

Sementara itu, Kepala Dispendukcapil Trenggalek, Ekanto Malipurbowo, mengatakan meskipun layanan di kantornya telah buka, namun animo masyarakat untuk melakukan pengurusan administrasi kependudukan (aminduk) masih cenderung sepi. Kondisi ini jauh berbeda dibanding hari-hari biasa. 

"Ini tadi masih sepi, dari kuota 200 pemohon KTP, tercatat masih ada sekitar 150 pemohon. Kemungkinan warga masih banyak yang merayakan lebaran, apalagi besok kupatan," ujar Ekanto. 

Pihaknya memprediksi, jumlah warga yang mengurus aminduk akan kembali ramai dalam kurun waktu sepekan mendatang. Sementara itu, selain layanan di kantor Dispendukcapil pihaknya juga mulai mengaktivkan kembali pelayanan keliling. 

Ditinggal Bungkusi Kue, Rumah Ludes Terbakar



Trenggalek - Kebakaran meludeskan sebuah rumah milik seorang warga di  Kabupaten Trenggalek. Beruntung kebakaran tidak sampai menimbulkan korban jiwa maupun luka. 

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.30 WIB di rumah milik Umami warga Kelurahan Kelutan, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek. Api yang diketahui dari bagian dapur langsung membesar hingga membakar sebagian besar rumahnya. 

Salah seorang saksi mata Sri Sutikno, mengatakan, kejadian bermula saat pemilik rumah sedang berada di rumah tetangganya untuk membungkus kue. Saat itu saksi mata mencium bau hangus di bagian belakang rumah korban. 

"Kebetulan rumah saya berada di bekalang rumah Bu Umami, tadi anak saya bilang kok mencium bau gosong dan setelah ditengok ternyata api sudah mulai membesar di bagian dapur," ujar Sri. 

Mengetahui hal tersebut ia dan warga lain langsung berteriak minta tolong. Sedangkan pemilik rumah yang mencoba menengok rumahnya sudah tidak bisa masuk ke bagian  belakang, karena api telah membesar. 

"Warga berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya, sambil menunggu mobil pemadam kebakaran, " imbuh Sri. 

Wanita berhijab ini menduga kebakaran berasal dari kompor, karena informaai yang diperoleh sebelum kejadian pemilik rumah akan menggoreng kerupuk. 

Sementara itu, koordinator Pemadam Kebakaran Trenggalek, Basuki, mengatakan untuk memadamkan kobaran api, pihaknya menerjunkan dua unit mobil pemadam kebakaran. 

"Api berhasil kami padamkan sekitar Pukul 21.30 WIB, kemudian kami lanjutkan dengan pembasahan. Kami pastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini," kata Basuki. 

Peristiwa yang terjadi di permukiman padat penduduk tersebut juga tidak sampai merembet ke rumah warga yang lain. Petugas Pemasam Kebakaran langsung melokalisir kobaran api dengan dibantu masyarakat. 

Amukan si jago merah mengakibatkan sebagian besar rumah korban ludes terbakar dan hanya menyisakan ruang tamu dan teras. Pihaknya mengaku belum bisa memastikan penyebab kebakaran tersebut, karena saat ini masih dalam proses penyelidikan kepolisian. 

"Sedangkan estimasi kerugian materiil akibat peristiwa ini masih dalam inventarisir, tapi diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah,"  jelasnya.