Recent Posts

Tujuh Haktare Hutan Gunung Kebo Terbakar

Trenggalek - Kebakaran terjadi di hutan Gunung Kebo Trenggalek, akibatnya tujuh hektare kawasan hutan ludes terbakar. Sejumlah tim gabungan dari berbagai instansi kebencanaan berusaha melokasisir api dengan cara manual. 

Wakil Administratur Perhutani KSKPH Kediri Selatan, Andi Iswindarto, mengatakan kobaran si jago merah terjadi di sejak Senin siang di hutan petak 78 RPH/BKPH Trengalek. Kobaran api yang diduga dari kawasan pemajekan dengan cepat merembet masu ke kawasan hutan. 

"Kondisi hutan yang didominsi oleh ilalang kering serta kondisi angin yang cukup kencang membuat api dengan mudah menjalar," kata Andi Iswindarto, Senin (24/9/2-18). 

Puluhan personil gabungan dari Perhutani, Polisi, TNI, BPBD dan Satpol PP langsung diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan proses pemadaman dan melokalisir api. Sehingga tidak merembet ke perkampungan warga. 

Proses pemadaman hanya menggunakan ranting pohon dengan cara di pukulkan ke kobaran api, karena posisinya berada di atas perbukitan sehingga tidak mungkin dijankau mobil pemadan kebakaran. Selain itu petugas juga membuat sekat denga harapan api tidak merembet ke kawasan hutan yang lain. 

Andi menambahkan, meskipun hutan yang terbakar mencapai tujuh hektare namun kerugian yang ditimbulkan tidak terlalu besar, hanya mencapai Rp20 juta, karena sejumlah tegakan besar yang ada di atasnya tidak sampai mati. 

"Tegakan yang besar itu tidak banyak, seperti akasia, sengon dan jati. Sebetulnya untuk kawasan itu setahun lalu juga kami lakukan penanaman lumayan banyak, tapi ya itu, masih kecil mati karena kebakaran," jelasnya. 

Pihaknya mengimbau masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan kewaspadaan, karena di musim kemarau ini sebagia besar hutan di Trenggalek rawan terjadi kebakaran. 

"Kalau melakukan membakar sampah di lingkungannya sendiri juga harus diawasi, jangan sampai dibiarkan dan merembet ke hutan. Kemudian juga jangan membuang puntung rokok sembarangan. Keletarian hutan adalah tugas kita bersama," jelas Andi. 

 foto : istimewa

Ditinggal Istri Ke Luar Negeri, Pria ini Cabuli Anak di Bawah Umur

Trenggalek - Kepolisian Resort Trenggalek menangkap seorang pelaku pencabulan' terhadap anak di bawah umur. Aksi itu dilakukan selama tiga tahun mulai kelas V SD hingga Kelas VII SMP. 

Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo, mengatakan aksi bejat tersebut dilakukan oleh Sutiyono (40), Warga Kecamatan Munjungan, Trenggalek. Pelaku memperdayai korban dengan bujuk rayu dan memberikan uang Rp10 ribu. 

"Kejadian ini terbongkar setelah orang tua korban curiga dengan kondisi kamar anaknya yang berantakan, selanjutnya ia bertanya kepada sang anak dan akhirnya diceritakan kejadian  yang dialami," kata Didit, Senin (24/9/2018). 

Dalam melakukan tindakan asusila itu, pelaku masuk ke rumah korban saat kondisi sedang sepi, selanjutnya pelaku langsung melakukan aksinya kepada korban yang masih berusia 12 tahun. Setelah mencabuli korban, tersangka memberikan uang jajan Rp10 ribu. 

"Dari proses penyidikan, tersangka mengakui jika sudah melakukan tindakan amoral tersebut sejak korban masih duduk di bangku kelas V SD hingga Kelas VII SMP. Jadi sudah tiga tahun," jelas Didit. 

Dari penelurusan penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Trenggalek, diketahui jika pelaku diduga sedang kesepian dan tidak bisa menyalurkan hasrat biologisnya, lantaran istrinya sedang bekerja di luar negeri. 

Selain tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya elana dan baju milik korban, sepasang sandal jepit tersangka, serta emat bungkus permen. 

Akibat perbuatannya, kini tersangka diamankan di Polres Trenggalek guna menjalani proses hukum lebih lanjut. Tersangka dijerat dengan Pasal 82 ayat 1 UURI Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan kedua UURI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang.

"Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara," ujar Kapolres Trenggalek. 

Mengaku Polisi, Pria ini Cangkul Warga


Trenggalek - Tim Buru Sergap Polsek Watulimo Trenggalek menangkap dua orang yang mengaku sebagai anggota polisi dan melakukan penganiayaan terhadap seorang warga dengan cangkul. 

Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra, mengatakan dua pelaku yang diamankan adalah Bambang Wahyudi alias Tolet (28) warga Desa Semarum, Kecamatan Durenan serta Bagus Saputra alias Plecet (34) warga Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan Trenggalek. 

"Kedua pelaku ini melakukan penganiayaan terhadap Imanuddin alias Acong (42) warga Desa Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Tulungagung. Penganiayaan dilakukan para pelaku dengan menghujamkan cangkul ke wajak korban, meskipun agak meleset, namun korban mengalami lika," kata Didit, Senin (24/9/2018). 

Kejadian penganiayaan berlangsung di hamalam rumah orang tua Imanuddin, Sujinah, di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. Saat itu kedua pelaku mendatangi rumah Sujinah dengan alasan untuk mencari keberadaan korban Imanuddin. Korban dituding telah memiliki hubungan asmara dengan kakak ipar salah satu pelaku.  

"Saat mencari korban tersebut para pelaku mengaku sebagai anggota Polres Tulungagung. Pada pencarian pertama korban tidak ketemu, kemudian selang beberapa saat kemdian pelaku ini kembali ke rumah SUjinah," imbuh Didit. 

Dalam pencaria kedua ini, pelaku berhasil bertemu dengan korban. Saat itulah para pelaku langsung mengamuk dan melakukan penganiayaan dengan mencoba menghujamkan cangkul ke dahi korban. 

"Namun upaya itu gagal, hantaman cangkul meleset hingga mengenai bagian pelipis kiri, akibatnya korban mengali luka hingga mengucurkan darah," jelas kapolres. 

Belum puas melakukan proses penganiayaan, pelaku juga melakukan perusakan rumah orang tua korban, denan merusak jendela kaca, serta dinding rumah yang terbuat dari kalsiboard. 

Imanuddin yang merasa menjadi korban penganiayaan akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polsek Watulimo. Dari hasil penyelidikan para pelaku berhasil ditangkap di rumahnya di wilayah Durenan. 

Akibat perbuatannya, kini kedua tersangka harus mendekam di tahanan Polres Trenggalek dan dijerat pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. 

Ratusan Jemaah Haji Tiba di Trenggalek, Satu Dilarikan ke Rumah Sakit

Trenggalek - Seorang jemaah haji asal Trenggalek tertinggal di Arab Saudi karena mengalami sakit keras, sementara itu seorang jemaah terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit saat tiba di Trenggalek. 

Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kementerian Agama Trenggalek, Agus Prayitno, mengatakan jemaah yang tertinggal di Arab Saudi adalah Kodi (77) warga Kecamatan Munjungan, yang bersangkutan akan dipulangkan ke tanah air apabila kondisi kesehatannya kembali pulih. 

"Dia usianya sudah tua dan mengalami sakit stroke, informasi dari PPIH Pak Kadi masih belum sadar. Nanti kalau sudah membaik dan layak terbang maka akan dipulangkan ke Indonesia," kata Agus, Jumat (14/9/2018). 

Menurutnya, dari total 501 jemaah haji 497 diantara telah dipulangkan ke Trenggalek dalam dua tahap pada Jumat pagi dan malam sesuai dengan kloter masing-masing. Dalam proses pemulangan kali ini satu jemaah harus dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan, namun saat ini kondisinya mulai membaik. 

"Jadi dari 501 jemaah itu, dua dipulangkan lebih awal karena sakit, kemudian satu meninggal dunia atas nama Sukinah warga Krandegan Gandusari dan satu tertinggal karena sakit, yang lain Alhamdulillah sehat," ujarnya. 

Sementara itu, kedatangan ratusan jemaah haji di Pendapa Manggala Praja Nugraha berlangsung haru, para keluarga langsung memeluk jemaah haji yang baru turun dari dalam bus. 

Di sisi lain, meskipun hampir seluruh jemaah telah dipulankan ke Trenggalek, namun masih terdapat 67 koper jemaah yang masih tertahan di Arab Saudi. Hal itu terjadi karena saat proses pengangkutan, pesawat mengalami kelebihan muatan, sehingga terpaksa harus dilakukan pengurangan beban. 

"Jangan khawatir, nanti akan dikirim oleh PPIH Arab Saudi," ujarnya. 


Ini Alokasi CPNS Trenggalek 2018

Trenggalek - Pemerintah pusat akhirnya membuka perekrutan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada tahun 2018 setelah melakukan moratorium selama beberapa tahun terakhir. Namun kuota yang dialokasikan untuk setiap daerah tergolong kecil dibanding jumlah kekurangan pegawai, seperti halnya di Trenggalek. 

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Trenggalek, Pariyo, mengatakan selama penghentian pengadaan CPNS, jumlah kekurangan pegawai terus bertambah setiap tahun. Hingga tahun ini kekurangan pegawai mencapai 2.000 orang. 

"Pada pengadaan pegawai tahun ini kami mendapatkan kuota dari pemerintah pusat sebanyak 349 orang, sebetulnya yang kami usulkan ke pusat itu 550 orang," kata Pariyo, saat di Gedung DPRD Trenggalek, Senin (10/9/2018). 

Dari alokasi 349 lowongan CPNS, paling banyak untuk tenaga pendidik atau guru, tenaga kesehatan serta infrastruktur. Seluruh kuota rekrutmen yang dialokasikan minimal untuk jenjang pendidikan Diploma 3, sedangkan untuk lulusan SMA/SMK belum mendapatkan alokasi tahun ini. 

"Penentuan alokasi CPNS ini kelihatannya mengacu pada jumlah PNS yang pensiun di masing-masing daerah, seperti di Trenggalek ini rata-rata setiap tahun ada 300-400 PNS yang purna tugas, makanya alokasi dari pemerintah juga hanya 349 lowongan," ujarnya. 

Pariyo menjelaskan, proses seleksi tenaga baru tersebut rencananya akan terintegrasi melalui portal resmi Badan Kepegawaian Nasional (BKN) di www.sscn.bkn.go.id. Ia berharap, meskipun jumlah PNS yang akan direkrut jauh lebih kecil dari kebutuhan, tetap bisa menunjang kinerja pemerintah daerah dalam menjalankan roda pemerintahan secara optimal.