Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Genjot Pengembangan Wisata, Pemkab Trenggalek Permudah Investasi

Trenggalek - Pengembangan sektor pariwisata terus digenjot oleh berbagai daerah dengan inovasi dan strategi. Di Trenggalek, pemerintah setempat menggelar lelang investasi serta pengenalan potensi wisata. 

Berbagai tawaran menarik diberikan kepada para investor. Dalam lelang investasi, pemerintah daerah memberikan kemudahan investasi, salah satunya adalah penyediaan lahan oleh Pemkab Trenggalek. Investor yang akan menanamkan usahanya tidak harus membeli tanah, namun disediakan dengan sistem kerjasama. 

"Trenggalek ini 70 persen adalah pegunungan, sehingga memang agak susah untuk mencari tanah sendiri. Untuk itulah kami (pemerintah) akan memfasilitasi sehingga investor tidak perlu beli tanah," kata M Nur Arifin, Senin (29/4/2019). 

Lelang investasi itu ditawarkan langsung oleh Wakil Bupati Arifin pada gelaran Jakarta Marketing Week dua hari lalu, kepada para calon investor serta berbagai perusahaan ternama di Ibukota. 

Tak hanya kemudahan untuk mendapatkan lokasi investasi, pemerintah juga memberikan insentif berupa pembebasan pajak daerah selama 2 hingga 3 tahun pertama investasi.  Bahkan pihaknya juga siap memberikan kemudahan dalam pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB). 

"Saya pastikan tidak ada gratifikasi atau macam-macam," ujar Arifin. 

Daya tarik lainnya, Pemkab Trenggalek membuka peluang investasi tanpa perjanjian bangun guna serah alias Build Operate Transfer (BOT) di lahan milik pemerintah daerah. "Mau investasi seratus tahun pun tidak masalah," imbuhnya.

Namun, ia meminta agar ada pelibatan masyarakat lokal dalam investasi yang bakal ditanam. Ini wajib dilakukan agar perkembangan sektor pariwisata selaras dengan peningkatan perekomonian masyarakat sekitarnya. 
"Kami akan undang 10 perusahaan ke Trenggalek untuk melihat secara langsung potensi investasi di wilayah kami," ujarnya. 

Dinas Pariwisata Trenggalek Terseok-seok Penuhi Terget PAD

Trenggalek - Dinas Periwista dan Kebudayaan (Disparibud) Trenggalek mengaku kewalahan untuk memenuhi terget Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk tahun anggaran 2018. Dari terget Rp8,7 miliar baru tercapai 70 persen. 

Kepala Disparibud Trenggalek, Joko Irianto, mengatakan kemungkikan besar target Rp8,7 miliar tersebut untuk terpenuhi, mengingat saat ini mulai terjadi musim penghujan. Sehingga jumlah kunjungan wisata juga akan mengalami penurunan. 

"Yang sekarang kelihatannya memang sulit, tapi ya kita optimistis saja dan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi di sisa dua bulan ini," kata Joko Irianto usai rapat di DPRD Trenggalek, Selasa (13/11/2018). 

Dijelaskan, berbagai persoalan juga masih mengiringi sektor pariwisata di Trenggalek, sehingga pendapatan yang diperoleh belum bisa maksimal. Persoalan tersebut mulai dari sistem penarikan retribusi, fasilitas wisata serta strategi promosi yang belum sempurna. 

"Seperti tadi disampaikan oleh angota dewan terkait retribusi, memang ada benarnya, jadi kalau malam hari banyak wisatawan yang tidak dikenakan retribusi. Karena jumlah personil kami sangat terbatas. Inilah yang ke depan akan kami penuhi," jelasnya. 

Joko menambahkan, selain sektor retribusi tiket masuk lokasi wisata, pendapatan di dinas pariwisata juga ditunjang oleh berbagai sektor lain, termasuk hotel hingga sewa lahan. 

"Nah terkait dengan retribusi sewa lahan sendiri, kami akui masih banyak diantara penyewa yang belum membayar. Inilah yang saat ini kami terus lakukan penagihan, semoga bisa menambah PAD," ujar Joko. 

Terget PAD 2019 Kembali Naik 

Sementara itu meskipun terget PAD sektor wisata tahun ini belum terpenuhi, namun pada proyeksi tahun anggaran 2019 mendatang Pemerintah Daerah Trenggalek justru kembali menaikkan terget pendapatan dari semula Rp8,7 miliar menjadi Rp12,5 miliar. 

Joko Irianto mengakui peningkatan proyeksi yang sudah masuk dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Priorotas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) 2019 tersebut cukup berat untuk diwujudkan. Bahkan dalam rapat dengan Badan Anggaran DPRD Trenggalek pihaknya meminta untuk dilakukan revisi, namun tetap ditolak. 

"Seperti yang kita lihat bersama, sebetulnya itu terlalu besar, namun karena sudah masuk dalam KUA-PPAS maka tidak bisa direvisi. Kami tentu hanya akan berusaha untuk memenuhi itu dengan berbagai program dan strategi khusus,' kata Joko. 

Strategi pemenuhan peningkatan PAD tersebut yakni dengan menaikkan harga tiket masuk di sejumlah sektor wisata, seperti Pantai Pasir Putih yang sebelumnya Rp10 ribu akan dinaikkan menjadi Rp15 ribu, sedangkan Pantai Prigi dari Rp7.500 naik menjadi Rp10 ribu, demikian halnya dengan beberapa destinasi wisata lain yang dikelola dinas pariwisata. 

"Tidak hanya itu saja, kami juga akan melakukan kerjasama pengelolaan aset wisata milik Perhutani, seperti Pantai Konang, Pantai Cengkrong, Pemandian Tapan dan beberapa obyek lain, kemudian juga akan kami genjot melalui even," ujarnya. 

Joko mengaku hal itu saja tidak akan cukup, karena untuk menarik tingkat kunjungan wisata dibutuhkan penambahan fasilitas maupun strategi promosi yang mumpuni. Dikatakan terget Rp12,6 miliar PAD akan terpenuhi apabila tingkat kunjungan wisata yang datang mencapai 700 ribu dalan satu tahun. 

"Sedangkan  tingkat kunjungan tahun ini masih pada angka 650 ribu/ tahun, dengan jumlah tersebut kalau diterget untuk Rp12,5 miliar memang terlalu tinggi," jelasnya. 

Pedagang Protes Pembangunan Food Court, Pemkab Trenggalek Mengalah

Trenggalek - Aksi protes para pedagang yang beroperasi di Pantai Prigi Trenggalek terkait rencana pembangunan food court terus berlanjut, kali ini mereka mengadukan persoalan ke DPRD setempat. Hasilnya pemerintah daerah mengalah dan menerima usulan pedagang dan rekomendasi DPRD. 

Dalam rapat dengar pendapat di DPRD Trenggalek, para pedagang langsung mengungkapkan berbagai persoalan yang dirasakan akibat rencana pembangunan food court tersebut. Salah satu keluhan yang disampaikan pedagang adalah pembangunan yang menerjang bangunan warung eksisting, sehingga sebagian harus dibongkar. 

"Padahal kami baru saja memindahkan warung ini setahun yang lalu dengan dana sendiri. Saat itu Pak Emil (BUpati) turun langsung untuk melakukan penataan. Masak sekarang mau digusur lagi," kata salah seorang pedagang Karyono, Senin (10/9/2018). 

Protes keras itu dinilai lazim oleh para pedagang, mengingat untuk memindahkan warung lama dan membangun warung yang ada saat ini, mereka harus berutang di bank. Bahkan sekarang cicilan kredit usaha itu belum lunas. 

"Beri kami waktu untuk bernapas, belum genap satu tahun kami pindah, masih belum pulih. Hampir semua pedagang menanggung utang bank," katanya. 

Lebih lanjut pedagang ikan bakar ini mengaku keberatan apabila sebagian bangunan warungnya haus dibongkar untuk lokasi pembangunan food court. Mengingat luasan lahan kosong di kawasan Pantai Prigi masih cukup luas. 

"Ibaratnya warung itu adalah satu kesatuan, kalau salah satu dibongkar (bagian dapur) otomatis kami tidak dapat beroperasi lagi. Kami tidak menolah pembangunan, tapi beri kami waktu bernapas," jelasnya. 

Selain itu, konsep food court masih sulit diterapkan di kawasan Pantai Prigi, megingat jenis makanan yang dijajakan pada pedagang hampir sama, yakni ikan bakar dan sejenisnya. Dikhawatirkan apabila pujasera itu diterapkan maka akan memicu konflik antar pedagang. 

"Karena makanan kami sama, itu kan kalau food court tempat makannya jadi satu, coba anda bayangkan ketika lokasi duduk konsumen itu di depan warung kita namun makanannya dari warung lain, ya akan geger, karena makanannya sama. Berbeda kalau jenis makannya beda-beda," kata pedagang lain, Sudarman. 

Disisi lain, desain kios baru 3,5x4 meter ditambah delapan meter tempat konsumen terlalu sempit untuk berjualan ikan bakar, karena masing-masing pedagang membutuhkan dapur basah untuk mengolah ikan laut sebelum disajikan. 

Sementara itu, anggota DPRD Trenggalek, Mugianto merekomendasikan ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk mengkaji ulang pembangunan tersebut. Pihaknya mengusulkan agar lokasi pembangunan dipindah ke sisi barat, sehingga tidak meganggu aktivitas para pedagang. 

"Ini nanti pembangunan food court akan dilakukan mulai ujung barat sampai timur, makanya kalau dari sisi timur ditolak maka dari sis barat dahulu," kata Mugianto. 

Menurutnya, selama ini Dinas pariwisata dinilai kurang optimal dalam melakukan sosialisasi rencana pembangunan, sehingga muncul persoalan saat akan dilakukan eksekusi pembangunan. 

Usulan kalangan DPRD tersebut akhirnya disetujui oleh para pedagang, bahkan pedagang tidak mempersoalkan apabila bangunan baru tersebut ditempati oleh pedagang baru, selain yang ada saat ini. 

"Tadi dari pedagang juga ada beberapa usulan mulai dari luas kios yang terlalu sempit maupun konsep food court yang tidak sulit diterapkan, kami meminta dinas terkait untuk melakukan kajian lagi, terutama untuk pembangunan lanjutan yang nantinya kan ditempati para pedagang saat ini," imbuh politisi Partai Demokrat ini. 

Sementara itu Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Sunyoto, memastikan pihaknya akan menggeser lokasi pembangunan food court dari semula di sisi timur ke sisi barat. 

"Kami rasa itu tidak menjadi persoalan, karena lokasinya masih tetap di Pantai Prigi. Hanya saja memang nantinya yang menempati bukan pedagang saat ini, mereka rela jika ditempat oleh pedagang baru," katanya. 

Sedangkan terkait pembangunan lanjutan di sisi timur akan diusulkan pada tahun anggaran 2019 mendatang. Pihaknya mengaku akan mengakomodir berbagai usulan dari pedagang agar konsep food court yang direncanakan sesuai dengan harapan pedagang maupun pemerintah. 

Sesuai dengan rencana pembangunan, deretan food court yang akan dibangun pemerintah daerah nantinya akan ditempati oleh seluruh pedagang di pesisir pantai prigi. diharapkan dengan adanya konsep baru akan menambah daya tarik wisata dan mempercantik wajah Pantai Prigi. 

Sejumlah Pedagang Tolak Pembangunan Food Court Pantai Prigi

Trenggalek - Sejumlah pedagang makanan di komplek wisata Pantai Prigi Trenggalek menolak rencana pembangunan food court karena akan menggusur lapak pedagang yang baru dibangun. 

Aksi dikakukan para pedagang dengan membentangkan poster bertuliskan aspirasi dan penolakan di depan Hotel Prigi. Pedagang juga berorasi agar pemerintah daerah konsisten dengan penataan kawasan pantai yang dilakukan sebelumnya. 

"Kami baru bangun kios belum ada setahun, tiba-tiba digusur , padahal ini dulu yang menata pemerintah juga, bahkan Pak Bupati juga turun langsung," kata salah seorang pedagang, Rabu (5/9/2018). 

Pedagang mengaku proses pembangunan tidak disosialisasikan secara maksimal kepada para pemilik lapak, namun tiba-tiba rekanan pemerintah turun langsung untuk melakukan pengukuran dan meminta pedagang untuk membongkar sebagian kiosnya dalam jangka waktu tertentu. 

Salah seorang pedagang, Karyono, mengatakan selama proses penataan kawasan Pantai Prigi sejak 2007 lalu para pedagang selalu menjadi korban, karena terus-menerus dilakukan penataan. Penataan terakhir dilakukan sekitar setahun lalu, dari semula deretan kios berada di dekat bibir pantai digeser ke belakang. 

"Baru kami membangun kios sendiri dengan dana pinjaman dari bank, belum lunas kami membayar utang ternyata sekarang mau digusur lagi," ujarnya kepada sejumlah wartawan. 

Selain itu konsep pembangunan food court dinilai belum layak untuk diterapkan di kawasan Pantai Prigi, karena makanan yang dijual hampir semuanya sama, sehingga apabila dikumpulkan dalam food court dikawatirkan akan terjadi persaingan tidak sehat. 

"Kemudian luas kios yang dibangun juga lebih kecil dibanding dengan kios yang kami bangun ini, bagaimana kami jualan dengan kios yang sempit," jelas koordinator pedagang ini. 

Pedagang ikan bakar ini mengaku, pada pembangunan fasilitas kuliner tahap pertama ini, hanya sebagian kios yang terdampak. Namun hal itu cukup menganggu aktivitas para penjaja makanan, karena bagian dapur harus dibongkar. 

Para pedagang rencananya akan mengadukan persoalan itu ke DPRD setempat. Mereka berharap pembangunan di kawasan Prigi tidak selalu mengorbankan para pedagang. 

"Pembangunan yang selama ini dilakukan belum berdampak banyak terhadap kunjungan ke sini, mulai dari panggung 360, kemudian lapangan voli pantai dan yang lain, sekarang mau dicoba lagi dengan fasilitas lain," ujarnya. 

Sementara itu Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Sunyoto memastikan pembangunan food court tidak akan menganggu aktivitas para pedagang, namun fasilitas tersebut justru akan sebagai salah satu upaya dari Pemkab Trenggalek untuk menata kawasan Prigi agar lebih menarik wisatawan. 

"Sebetulnya food court itu nanti juga untuk pedagang, setelah dibangun mereka (pedagang) akan dipindah ke situ. Untuk tahap awal ini kami membangun untuk 13 kios," ujarnya.

Sesuai dengan rencana pembangunan, pendirian sentra kuliner terpadu tersebut akan digarap pada tahun ini dengan anggaran hampir mencapai Rp1 miliar. 

Perahu Pecah Dihantam Ombak, Satu Nelayan Trenggalek Hilang

Trenggalek - Seorang nelayan asal Trenggalek dinyatakan hilang setelah perahu yang dikendarai pecah tersapu ombak di perairan selatan Jawa. Tim Basarnas diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan proses pencarian bersama potensi SAR lain. 

Koordinator Basarnas Pos Trenggalek, Asnawi Suroso, mengatakan korban dihilang diidentifikasi bernama Sarun (40) warga Dusun Karanggongso, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo Trenggalek. Korban dikabarkan hilang di sekitar karang Gunung Gelang di kawasan Teluk Prigi pada Senin (6/8/2018) sore. 

"Kejadian hilangnya korban ini dilaporkan ke Basarnas pada Pukul 16.30 WIB, kemudian kami langsung menindaklanjuti dengan menerjunkan tim untuk melakukan proses pencarian," kara Asnawi. 

Dari data sementara yang masuk, kejadian kecelakaan laut tersebut berawal saat Sarun dan saudaranya Rifai berangkat melaut untuk mencari gurita di kawasan Teluk Prigi. Saat itu kedua nelayan berangkat dengan meniki Kapal Motor (KM) Isabella. 

"Sampai di Gunung Gelang, korban ini kemudian pindah menggunakan perahu kunting. Namun sesaat setelah melakukan kegiatannya tiba-tiba datang gelombang besar dan menghempaskan korban bersama perahunya," ujarnya. 

Dari hasil penelusuran sementara, di sekitar lokasi kejadian hanya ditemykan perahu korba dalam kondisi pecah, sedangkan korban Sarun tidak ditemukan keberadaannya. 

Rencananya tim SAR gabungn akan melakukan operasi pencarian mulai Selasa besok dengan bekerjasama dengan sejumlah potensi SAR, mulai dari SAR Nelayan, Polair, Polsek Watulimo, TNI AL, TNI AD serta pihak pelabuhan. 

"Untuk saat ini kami sedang melakukan perencanaan tentang skenario pencarian besok, kalau malam hari tidak visibel untuk dilakukan pencarian," jelas Asnawi. 


foto : istimewa 

Ratusan Warga Bersihkan Pantai Cengkrong

Trenggalek - Ratusan warga Trenggalek melakukan aksi bersih-bersih timbunan sampah di kawasan wisata Pantai Cengkrong pascaterjadinya gelombang tinggi. 

Wakil Administratur Perhutani Kediri Selatan, Andi Iswindarto, mengatakan sejumlah elemen masyarakat yang tergabung adalah SMK Pelayaran Watulimo, para siswa SD, Dinas PKPLH, Pokdarwis Cengkrong serta Perhutani. 

"Yang mengakomodir adalah para guru serta dari Dinas PKPLH. Sampah-sampah yang berserakan di pantai kami bersihkan bersama, sehingga pantai menjadi bersih kembali," kata Andi, Sabtu (16/7/2018). 

Perhutani selaku pemangku kawasan mengapresiasi kepedulian dari berbagai kelompok masyarakat tersebut, mengingat, selama terjadi gelombang tinggi dalam kurun dua pekan kondisi Pantai Cengkrong dipenuhi oleh sampah laut maupun rumah tangga. 

Kondisi itu dipengaruhi oleh wilayah pantai yang berdekatan dengan muara sungai, sehingga aneka sampah yang berada di sungai menumpuk di pantai di Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo tersebut. 

"Sebetulnya kegiatan bersih-bersih semacam ini juga rutin dan sering dilakukan juga, namun pascagelombang tinggi itu sampahnya memang cukup banyak,"  imbuh Andi. 

Pihaknya berharap dengan kondisi pantai yang bersih akan membuat suasana destinasi wisata tersebut lebih asri dan nyaman serta bisa menjadi alternatif tujuan berlibur di pesisir Trenggalek. 

Foto : istimewa

Gelombang di Laut Selatan Mulai Menurun


Trenggalek - Intensitas gelombang tinggi di laut selatan Jawa di Trenggalek mulai menurun. Limpahan air yang sebelumnya menghantam kawasan pantai berangsur-angsur normal. 

Pegawai Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Hardi Widianto mengatakan, penurunan intensitas gelombang tersebut sesuai dengan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Meski demikian ketinggian ombak masih relatif besar dibanding hari-hari biasa. Masyarakat yang beraktivitas di sekitar pantai tetap diimbau untuk waspada. 

"Kalau yang besar itu mulai Selasa sampai Kamis kemarin, hantaman ombak sampai ke Pantai Prigi dan melompat break water," kata Hardi, Jumat (27/7/2018). 

Sementara itu aktivitas nelayan yang beroperasi di sekitar Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi selama empat hari ke depan tidak melaut. Hal tersebut sudah menjadi kesepatan seluruh nelayan. 

"Jadi seluruh nelayan yang ada di PPN Prigi sebelah barat maupun timur sepakat tidak melaut, ini bukan hanya karena gelombang tinggi, tapi juga untuk menyambut upacara adat Larung Sembonyo," ujarnya. 

Seperti adat yang telah ada secara turin temurun, seluruh nelayan diwajibkan untuk puasa melaut selama beberapa hari sebelum dan setelah dilaksanakannya upacara adat itu. 

Sebelumnya gelombang tinggi terjadi secara merata di hampir seluruh pantai di kawasan pesisir selatan Jawa. Dampaknya sejumlah fasilitas wisata hingga peralatan tangkap nelayan banyak yang mengalami kerusakan. 

Bahkan salah seorang nelayan di Trenggalek hilang tersapu gelombang saat meninjau keramba udang di kawasan Munjungan. Sedangkan di Tulungagung, sejumlah kapal nelayan yang sedang bersandar terbalik akibat hantaman ombak besar.

Foto : istimewa

Menikmati Pesona Alam Tebing Lingga



Arena bermain air yang ada di Wisata Tebing Lingga 

Trenggalek - Sebagian besar wilayah Trenggalek merupakan kawasan pegunungan dan perbukitan, namun dibalik itu kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini menyimpan potnsi wisata alam menarik, salah satunya Wisata Tebing Lingga (WTL).

Tebing lingga berada di Desa Nglebo, Kecamatan Suruh atau sekitar 20 kilometer dari pusat kota Trenggalek. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menuju ke lokasi wisata alam tersebut. Sedangkan akses jalannya relatif mudah.

Komunitas motor trail berlatih di sirkuit Tebing Lingga
Destinasi yang dirintis oleh Karang Taruna ini berbeda dengan lokasi wisata yang lain, beberapa keunikannya adalah yang berada di bawah kaki tebing Lingga yang memiliki ketinggian 360 meter. Di lokasi tersebut terdapat beberapa tradisional dan hammock yang bisa digunakan untuk berantai sambil menikmati alam di sekitarnya.

Udara di kawasan WTL cenderung masih bersih dan sejuk, karena jauh dari perkotaan dan dikelilingi oleh kawasan hutan. Di lembah tebing terdapat sirkuit tanah yang biasanya dimanfaatkan oleh pecinta otomotif untuk berlatih motor trail.

"Wisata ini masih rintisan, sehingga fasilitas yang ada di dalamnya belum kami eksporasi secara maksimal. Satu yang menarik di sini adalah ada aliran sungai yang di bawah tebing yang bisa digunakan untuk bermain anak-anak," kata Ketua Karang Taruna Desa Nglebo, Fals Yudhistira, Kamis (3/5/2018).

Keberadaan aliran sungai tersebut menjadi favorit anak-anak untuk bermain air sepuasnya. Menurutnya pemanfaatan sungai kecil tersebut sengaja dilakukan agar para pengunjung khususnya anak-anak bisa menyatu dengan alam.

"Anak-anak jangan hanya disuguhi dengan wisata gadget saja, sesekali bermain di sungai juga penting dan menarik. Selain itu sekaligus bisa menjadi nostalgia para orang tua yang dulu suka bermain di sungai," imbuh Fals.

Spot selfie yang instagramable 
Lebih lanjut Fals menjelaskan, selain sungai di lokasi tersebut jug terdapat spot selfie yng menarik dan instagramable, sehingga para pengunjing dapat berswafoto sepuasnya dengan latar belakang tebing Lingga.

"Meskipun masih berupa wisata rintisan kami sudah siapkan fasilitas penunjang berupa toilet, musala dan juga ada beberapa warung makan yang menyajikan kuliner lokal," ujar Fals.

Rencananya Karang Taruna setempat akan terus mengembangkan wisata alam itu dengan berbagai wahana yang menarik dan memacu adrenalin, salah satunya ATV serta panjat tebing.

"Kalau panjat tebing itu sebetulnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan memang di sini ini dulu dipakai untuk latihan panjat oleh Kopassus serta pecinta alam lainnya. Saat ini kami sedang buka aksesnya agar lebih mudah ke sana," jelasnya.

Pihaknya berharap dengan pengembangan Wisata Tebing Lingga, bisa menambah destinasi wisata andalan di Trenggalek dan mampu menggerakkan sektor perekonomian masyarakat yang ada di sekitarnya.

Sepi Tangkapan Harga Ikan Terkerek Naik

Sejumlah nelayan di PPN Prigi pulang melaut 
Trenggalek - Minimnya tangkapan nelayan di pesisir selatan Trenggalek berakibat pada naiknya harga ikan laut. Kenaikan harga mencapai hingga 50 persen. 

Salah seorang nelayan Sajiwo, mengatakan dalam satu bulan terakhir, kondisi tangkapan nelayan relatif sepi dibanding sebelumnya. Hal tersebut dipicu oleh kondisi cuaca yang berubah-ubah. 

"Selain itu juga dipengaruhi siklus bulanan, kalau sekitar bulan purnama biasanya ikan juga sepi. Kemudian kalau bulan sabit ikan muncul lagi, tapi memang untuk bulan ini masih belum maksimal," kata Sajiwo. 

Menurutnya untuk kondisi gelombang di tengah laut pada saat ini relatif lebih tenang, meski demikian banyak nelayan yang tidak melaut dan memilih untuk menunggu pada saat bulan sabit. 

"Kalau sekarang teman-teman banyak yang melakukan perbaikan alat tangkap, mulai dari jaring hingga kapal. Semoga mulai bulan ini ikan akan banyak," imbuh Sajiwo. 

Sementara itu kondisi tersebut berdampak pada harga ikan, ikan jenis tongkol yang semula dijual di pelelangan ikan antara Rp9 ribu hingga Rp10 ribu/kilogram saat ini meningkat menjadi Rp15 ribu/kilogram. 

"Bahkan ada juga yang sampai tembus Rp16 ribu dan Rp17 ribu. Ini kalau ikan masih terus sepi bisa terus naik, terlebih ini sudah mendekati bulan puasa," kata salah seorang pedagang ikan, Umi. 


Melihat Perkembangan Komplek Kafe Kontainer Prigi

Trenggalek - Upaya Pemkab Trenggalek mendatangkan sejumlah kafe kontainer di kawasan wisata Pantai Prigi mulai membuahkan hasil, geliat aktifitas wisatawan tidak hanya pada siang hari, namun hingga malam hari. 

Salah satu pengelola Kafe Kontainer dari komunitas G9 Anjar Priadi Putra, mengatakan kehadiran enam unit kafe kontainer memberikan nuansa tersendiri, karena biasanya aktifitas di kawasan wisata hanya terlihat sejak pagi hingga petang, kini memiliki durasi yang lebih panjang. 

"Kalau untuk kafe kontainer justru ramainya mulai sore hingga malam, bahkan terkadang di kafe kami sampai pagi. Kalau dilihat dari sini sebetulnya sudah mulai ada dampak terhadap kawasan wisata ini," kata Anjar saat dihubungi Trenggalek Kita. 

Selain lebih memiliki kesan yang menarik, keberadaan kafe baru tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang datang. Diharapkan mulai bergairahnya aktifitas malam di kawasan wisata, juga disambut oleh para pemilik warung makan lainnya, sehingga susananya semakin hidup. 

Meski demikian, Anjar menyayangkan ada beberapa kontainer yang belum difungsikan secara maksimal. Karena dari enam unit kotainer yang didatangkan baru tiga unit yang mulai menjalankan roda bisnisnya. 

"Yang belum beroperasi itu satu unit dikelola Dharma Wanita Pemkab Trenggalek, kemudian dua unit di bawah pengelolaan organisasi kemasyarakatan. Kami harap pemerintah menindaklanjuti ini, sehingga harapan untuk memajukan Prigi secara bersama-sama bisa tercapai," imbuh Anjar. 

Pemuda Desa Tasikmadu ini menjelaskan, tiga kontainer tersebut hingga kini masih tampak kosong dan belum ada aktifitas bisnis maupun sejenisnya. Padahal alokasi kontainer kafe telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. 

"Ini yang seharusnya menjadi evaluasi dari pemerintah, agar alokasi kontainer ini tepat sasaran. Artinya berikan kepada organisasi atau orang benar-benar punya niat untuk usaha. Jangan sampai hanya kosong seperti ini, kan sangat disayangkan," kata Anjar Priadi. 

Pihaknya optimistis, apabila seluruh kontainer beroperasi dan secara kontinyu menjalankan bisnisnya, maka kawasan Prigi akan kembali bergairah dan mampu mendatangkan banyak wisatawan. 

"Seharusnya, dinas pariwisata atau yang membidangi mengawal penyediaan kafe-kafe ini, sehingga bisa berjalan dengan baik," jelasnya. 


foto : Istimewa 

Sambut Musim Tanam, Petani Bakar Patung Tikus Raksasa

Trenggalek - Para petani Trenggalek menggelar tradisi Gerebeg Selo Bale sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang melimpah serta menyambut musim panen. Dalam tradisi itu, para petani memberikan sedekah 100 lebih nasi tumpeng ayam lodho kepada warga. 

Prosesi adat sedekah para petani ini diawali dengan kirab keliling desa yang diikuti oleh petani dan ratusan warga di Dusun Winong, Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, Trenggalek dengan berkeliling desa. 

Dalam kegiatan itu, warga membawa serta 121 nasi tumpeng ayam lodho khas Trenggalek yang merupakan sedekah dari para petani yang mengolah sawah di kawasan desa tersebut. 

Ketua Panitia Gerebeg Selo Bale, Agung Susilo, mengatakan, kegiatan adat tersebut dipusatkan di kawasan wisata Selo Bale karena merupakan daerah aliran sungai yang menjadi sumber penghidupan warga. 

"Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas sebagala rahmatnya, sehingga hasil panen yang kami dapat melimpah dan semoga ke depan petani di sini juga lancar dan dijauhkan dari hama," ujarnya, Jumat (26/1/2018). 

Menurutnya, tradisi gerebeg dilakukan setahun sekali setiap Jumat Legi (penanggalan Jawa). Setelah dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh tetua desa, ratusan ayam lodho tersebut dibagikan kepada seluruh warga dan pengunjung wisata yang berada di Selo Bale. 
"Ini adalah sedekahnya para petani, dibagian gratis kepada semua yang ada di sini,"  ujarnya kepada sejumlah wartawan. 

Usai menikmati nasi ayam lodho, para petani juga membakar ogoh-ogoh raksasa berbentuk tikus. Aksi pembakaran ini sebagai simbolisasi pembasmian hama yang biasanya menyerang kawasan lahan pertanian. 

"Kami berharap, pada musim panen mendatang, tiak ada lagi hama, baik itu tikus, wereng atau yang lainnya. Selain itu semoga kawasan sini juga bebas bencana, sehingga infrastruktur dan akses jalan tetap normal," imbuhnya. 

Ditambahkan, selain sebagai bentuk pelestarian adat, tradisi lokal warga tersebut juga sekaligus sebagai daya tarik wisata bagi warga yang berkunjung ke Taman Batu Bale Selo. 

Wakil Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin mengapresiasi aksi yang dilakukan warga. Pihaknya berharap, kegiatan tersebut bisa tetap dilestarikan sebagai wadah untuk bersilaturrahmi sekaligus sebagai wisata tradisi. 

"Ini adalah tradisi yang menarik, apalagi ada pembakaran patung tikus itu, sebagai simbolisasi agar petani dijauhkan dari hama maupun marabahaya lain yang bisa mengancam kawasan pertanian," ujarnya. 

Sementara itu salah seorang pengunjung, Rahmadi mengaku takjub dengan kegiatan yang disuguhkan oleh para petani. Karena seluruh pengunjung bisa melihat langsung keakraban kebersamaan para petani, sekaligus bia menikmati ayam lodho gratis. 

"Nasinya enak banget, kalau orang sini menyebutnya ambeng, yang isinya ayam lodho serta nasi gurih atau nasi kuning. Meskipun sederhana tapi nikmat sekali," katanya kepada detikcom. 

Selain menikmati makan gratis, para pengunjung juga bisa menyaksikan keindahan alam di sekitar Bale Selo, aliran sungai yang menerjang bebatuan alam tampak segar dan memanjakan mata. 



Wow Trenggalek Punya Supermarket Khusus Produk Lokal

Trenggalek - Sebuah inovasi dikembangkan Pemerintah Kabupaten Trenggalek, untuk meningkatkan daya saing produk industri kecil mikro dan menengah, dengan membuat supermarket khusus produk lokal. 

Sueprmarket yang berada di Jalan Panglima Soedirman tersebut diberinama Galeri Gemilang. Gedung yang menyatu dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Trenggalek di desain secara modern layaknya galeri sekaligus toko. 

Di lokasi ini terdapat 300 lebih produk lokal unggulan dari berbagai usaka kecil yang ada di Trenggalek, mulai dari makanan olahan, kerajinan, batik, benda seni, meubel hingga aneka minuman kemasan. 
Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, mengatakan, Galeri Gemilang sengaja dibuat untuk mempermudah masyarakat umum maupun para wisatawan yang datang guna mendapatkan berbagai produk lokal unggulan. 

"Kami ingin satu tempat yang representatif, yang meyakinkan sehingga membuat orang tergugah untuk membeli atau minimal untuk mencari tahu. Jadi galeri Gemilang ini fungsinya dua, yang pertama adalah inkubasi bagi para pelaku IKM," katanya. 

Sehingga diharapkan para pelaku usaha kecil di Trenggalek tidak kesulitan untuk memasarkan aneka produknya secara kontinyu dengan segmentasi yang lebih menarik dan bernilai lebih. 

Menurut Emil, produk yang dipsarkan melalui galeri Gemilang tersebut telah memiliki standar khuus, mulai mutu produk, hingga kemasan. Sehingga produk yang dihasilkan memiliki mampu menarik pembeli. Terbukti mayoritas produk yang dipasarkan memiliki kemasan yang unik dan 

"Ini adalah produk-produk yang berada di bawah binaan Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan. Semoga ini menjadi pasar yang lebih pasti, karena biasanya hanya berkeliling dari pameran satu ke yang lain," imbuhnya. 

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Trenggalek, Arumi Bachsin mengaku cukup puas dengan kehadiran Galeri Gemilang tersebut. Pihaknya berharap para pelaku usaha di Trenggalek lebih terpacu untuk berkarya dan menciptakan produk yang berkualitas dan inovatif. 

"Kalau selama ini ada yang kesulitan pemasaran, jadi sekarang tidak perlu khawatir lagi. Kami harap bisa memberikan kesempatan yang sama bagi para pelaku IKM di Trenggalek. Dulu mereka tidak mengerti mengenai packaging yang bagus, sekarang sudah bisa," ujarnya. 

Musim Libur Akhir Tahun, Basarnas Siaga di Pesisir Selatan

 Trenggalek - Badan SAR Nasional (Basarnas) Pos Trenggalek menyiagakan puluhan personil gabungan di sejumlah pantai di pesisir selatan. Pengamanan dilakukan seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang datang. 

Kepala Pos Basarnas Trenggalek, Asnawi Suroso, mengatakan, dua lokasi yang menjadi fokus pengamanan saat ini adalah Kecamatan Watulimo dan Kecamatan Paggul. Dua kecamatan tersebut dinilai cukup rawan terjadi kecelakaan laut, karena menjadi pusat berkumpulnya wisatawan. 

"Untuk di Kecamatan Watulimo ini wisatawan yang datang mencapai ribuan, karena lokasinya wisatanya juga cukup banyak, mulai dari Pantai Prigi, Pantai Cengkrong, Pasir Putih, Bangkokan hinga rumah apung. Di sini kami menyiapkan satu unit kapal sea reader," katanya, Selasa (26/12/2017).

Sedangkan di Kecamatan Panggul, Basarnas menempatkan personilnya di Pantai Pelang, dengan dilengkapi kendaraan angkut, serta dua unit perahu karet. Selain anggota Basarnas, pengamanan ini juga didukung oleh potensi SAR lain, seperti kelompok masyarakat pegawas (Pokmaswas) serta Orari. 

"Kami akan melakukan pengamanan sampai dengan tanggal 1 Janurari 2018. Sedangkan untuk daerah lain yang ada di sekitarnya, seperti Pacitan, Tulungagung maupun Blitar kami dibantu oleh potensi SAR yang ada di sana," ujarnya. 

Pihaknya mengaku, tingkat kerawanan kecelakaan laut pada saat liburan lebih tinggi dibanding hari-hari biasana, karena jumlah pengunjung yang datang mengalami peningkatan tajam. 

Untuk meminimalisir risiko kecelakaan, pihaknya mengimbau para wisatawan yang datang untuk mematuhi seluruh aturan yang ada di lokasi wisata yang dikunjungi. Selain itu, setiap kelompok wisatawan diminta saling mengawasi antara satu dan lainnya. 

"Kalau memang ada larangan mandi di laut, maka jangan sampai mandi. Karena larangan itu dibuat memanh untuk menjaga keselamatan pengunjung, jadi ya jangan melanggar," imbuhnya. 

Lebih lanjut, Asnawi menjelaskan, saat ini kondisi cuaca di kawasan pesisir selatan Trenggalek relatif cerah, selain itu gelombang laut juga tidak terlalu besar. 

"Untuk angin di pantai relatif kencang. Yang jelas tetap hati-hati saat di pantai, jaga selalu keselamatan diri dan teman yang ada di sekitarnya," imbaunya. 

Selain di pesisir pantai, rencananya tim Basarnas juga akan melakukan pengamanan di wilayah pendakian Gunung Lawu. Pengamanan tersebut akan dilakukan pada saat menjelang pergantian tahun 2017 ke 2018. 

"Nanti satu tim yang ada di Pantai Pelang akan kami geser ke Gunung Lawu, karena biasanya di sana akan terjadi peningkatan kunjungan saat pergantian tahun," katanya. 

Foto : doc Basarnas Trenggalek