Recent Posts

Keren, Ruang Tunggu SKCK Polres Trenggalek Dibikin ala Cafe

Keren, Ruang Tunggu SKCK Polres Trenggalek Dibikin ala Cafe

Adhar Muttaqin

Trenggalek - Polres Trenggalek meluncurkan cafe Sanika Satyawada untuk para pemohon Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Sehingga pemohon bisa mengunggu proses pengurusan surat dengan nyaman. 

Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring, mengatakan cafe ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas menarik, mulai dari tempat duduk yang nyaman, kopi gratis hingga tersedia aneka produk UMKM asli Trenggalek. 

"Cafe Sanika Satyawada ini adalah bentuk pelayanan publik yang kami berikan, khususnya bagi pemohon SKCK," kata Doni, Rabu (10/6/2021). 

Menurutnya dengan fasilitas baru tersebut, para pemohon SKCK diharapkan akan lenih nyaman berada di ruang tunggu, dibanding dengan ruang tunggu sebelumnya. Sambil menunggu proses pembuatan SKCK, pemohon dapat menikmati kopi gratis yang disediakan. 

"Ada kopi atau teh gratis, kemudian di situ kami juga ada display aneka produk UMKM Trenggalek, ada makanan minuman maupun kerajinan tangan," jelasnya. 

Dengan adanya galeri UMKM itu, Cafe Sanika Satyawada bukan hanya berfungsi sebagai ruang tunggu namun juga sebagai sarana pengenalan produk UMKM dari para pengusaha di Trenggalek. 

"Selain di sini kami juga ikut mengisi stand di Cafe Pelayanan Publik (CPP) yang disediakan Pemkab Trenggalek bersama instansi lain. Kalau di CPP ada layanan dari satlantas juga," ujar Doni. 

Permudah Masyarakat, Pemkab Trenggalek Buka Cafe Pelayanan Publik

Permudah Masyarakat, Pemkab Trenggalek Buka Cafe Pelayanan Publik

Adhar Muttaqin

Trenggalek - Pemerintah Kabupaten Trenggalek meluncurkan Cafe Pelayanan Pelayanan Publik (CPP), sebagai sentra layanan publik terintegrasi dari lintas instansi pemerintahan. 

Cafe yang berada di berada di satu lokasi dengan Galeri Gemilang ini melayani sejumlah akses layanan publik, di antaranya layanana perizinan usaha, SKCK, pembayaran pajak, hingga layanan BPJS Kesehatan. 

"Cafe ini mengintegrasikan semua layanan masyarakat," kata Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin, Selasa (9/6/2021). 

Menurutnya layanan yang diberikan tidak hanya fokus pada instansi yang berada di bawah kendali Pemkab Trenggalek, namun juga melihatkan layanan lain yang dikelola instansi milik provinsi maupun lembaga vertikal yang lain. 

"Jadi di sini ada layanan dari UPT dari Pemprov Jatim, kejaksaan, kepolisian dan juga dari pengadilan," jelasnya. 

Dijelaskan, layanan integrasi tersebut tidak hanya dijalankan secara luring, namun juga bisa diakses melalui internet pada laman cpp.trenggalek.go.id. Sehingga masyarakat tidak harus datang langsung ke sentra layanan. 

"Cafe pelayanan publik ini hanya untuk membantu, jika ada yang kesulitan dalam mengakses pelayanan. Sebenarnya semua pelayanan sudah bisa dilakukan secara online," jelas Arifin. 

Bahkan lanjutnya, masyarakat yang ingin mengakses layanan tertentu bisa memindai kode batang (barcode) untuk antrean. Sehingga saat datang di CPP, bisa mengetahui estimasi waktu layanan yang diakses.  

Peluncuran Cafe Pelayanan Publik ini mendapatkan apresiasi dari Kementerian Pemdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB). Deputi Bidang Pelayanan Publik Kemenpan RB, Diah Natalisa, mengatakan langkah yang diambil Pemkab Trenggalek tersebut merupakan bagian dari reformasi birokrasi.

"Saya berterima kasih kepada Kabupten Trenggalek yang berupaya memperbaiki pelayanan publik dengan melaunching Cafe Pelayanan Publik," kata Diah. 

Pertama di Indonesia, Pengawasan Ujian Praktik SIM Dilakukan Secara Digital

Trenggalek - Satlantas Polres Trenggalek mulai menerapkan pengawasan ujian praktik Surat Izin Mengemudi (SIM) secara digital. Pemohon SIM juga dapat melihat siaran ulang hasil ujian. 

Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring,  mengatakan jika dalam ujian praktik sebelumnya, harus ada petugas yang nengawasi langsung di jalur ujian praktik, kali ini pengawasan dilakukan secara digital. 

"Pada jalur ujian itu, sekarang kami lengkapi dengan sensor, sehingga ketika pemohon SIM ada yang menyentuh traffic cone maka sensor akan berbunyi dan otomatis terekam dalam sistem," kata Doni, Senin (31/5/2021). 

Menurutnya dalam ujian praktik itu, setiap terjadi satu kesalahan, maka nilainya akan dikurangi 15 poin. Sedangkan dalam sekali praktik maksimal terjadi dua kali kesalahan. "Maksimal itu dua kali kesalahan atau minimal nilai 70, kalau kurang dari 70 maka tidak lulus," jelasnya. 

Lanjut Doni, selain menggunakan sensor, pengawasan ujian juga dilakukan secara visual melalui kamera pengawas. Pergerakan pemohon SIM mulai awal sampai akhir ujian praktik terekam CCTV dan disiarkan langsung di ruang visualisasi uji praktik SIM. 

Rekaman ujian praktik juga bisa diakses oleh pemohon SIM di ruang visualisasi, dengan memasukkan nomor antrean. 

"Kalau penerapan sensor di jalur ujian praktik sudah ada di beberapa polres di Jatim, tapi kalau visualisasi, ini yang pertama di Indonesia. Jadi kalau ada pemohon yang komplain kenapa tidak lulus, maka video itu bisa diakses," jelas Doni. 

Kapolres menambahkan penerapan teknologi digital dalam pelaksanaan ujian SIM sebagai salah satu terobosan Polres Trenggalek untuk memberikan pelayanan prima dan transparan kepada masyarakat. 

"Selain itu, dengan teknologi digital akan mengurangi kontak langsung antara petugas dan pemohon SIM. Ini sejalan dengan penerapan protokol kesehatan di masa Pandemi COVID-19," jelasnya. 

Sementara itu Kasatlantas Polres Trenggalek AKP Imam Mustolih, mengatakan selain terkait pengawasan ujian praktik pemohon SIM secara digital, satlantas juga mulai menerapkan integrated node capture attitude record (INCAR ) atau mobil yang mempunyai kemampuan merekam pelanggaran pengguna jalan. 

Mobil tersebut akan berpatroli untuk melakukan pengawasan dan penindakan para pengguna jalan. Jika ada pelanggaran yang terekam kamera, maka akan didentifikasi melalui nomor kendaraan. 

"Nantinya, pemilik kendaraan akan dikirimi surat tilang, jika dalam lima hari tidak ada pembayaran denda, maka registrasi kendaraan akan kami blokir sementara," Imbuhnya. 


Kontingen Trenggalek Raih Juara Umum 2 Pekan Paralimpik Jatim

Trenggalek - Kontingen atlet paralimpik Trenggalek berhasil meraih juara umum ke-2 dalam kejuaraan Pekan Paralimpik Provinsi Jawa Timur I. Prestasi ini berbanding terbalik dengan anggaran pembinaan yang sangat minim dari pemerintah daerah. 

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Trenggalek Totok Rudianto, mengatakan dalam pekan olahraga para difabel itu, kontingen Trenggalek I memperoleh 8 medali emas, 2 medali perak dan 2 medali perunggu. Sedangkan kontingen Trenggalek II mendapat 2 medali perunggu. 

"Alhamdulillah dalam pekan paralimpik tahun ini Trenggalek dapat juara umum ke-2. Dengan total perolehan medali 8 emas, 2 perak dan 4 perunggu," kata Totok Rudianto, Selasa (25/5/2021). 

Menurutnya, 14 medali itu didapatkan dari cabang olahraga atletik. Sedangkan dua cabang olahraga lain, catur dan bulutangkis gagal memperoleh medali. 

"Kejuaraan ini sekaligus untuk seleksi menuju Pekan Paralimpik Nasional XVI 2021. Jadi atlet yang berprestasi ini kemungkinan akan mendapatkan pembinaan lebih lanjut untuk menuju kejuaraan berskala nasional," ujarnya. 

Sementara itu Kabid Olahraga Disdikpora Trenggalek Sulani mengatakan, dalam kejuaraan Pekan Paralimpik Provinsi Jawa Timur I tersebut, Kabupaten Trenggalek mengirimkan 11 atlet dari tiga cabang olahraga, yakni Atletik, bulutangkis dan catur. 

"Perolehan medali ini melebihi target kami. Sebelumnya itu hanya menargetkan dua atau tiga medali emas, namun hasilnya luar biasa justru dapat delapan emas," jelasnya. 

Sulani menjelaskan upaya yang dilakukan para atlet difabel ini dinilai cukup maksimal, padahal anggaran pembinaan yang disediakan pemerintah daerah tergolong minim dan terkena refocusing anggaran untuk COVID-19. 

"Anggaran tahunan untuk pembinaan cukup kecil, awalnya itu dianggarkan Rp 100 juta kepada National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Trenggalek, tapi kemudian terkena refocusing jadi Rp 50 juta," imbuh Sulani. 

Pihaknya berharap tahun depan pihaknya dapat meningkatkan anggaran pembinaan bagi para atlet NPCI Trenggalek, sehingga dapat meningkatkan prestasi. 

Sementara terkait penghargaan bagi para atlet yang memperoleh medali, Dinas Dikpora Trenggalek rencana baru akan mengajukan anggaran para APBD perubahan 2021. "Karena anggaran yang ada cukup minim dan tidak ada alokasi untuk reward, maka akan kami ajukan melaui PAK (perubahan anggaran keuangan)," jelas Sulani.

foto istimewa



Kolaborasi Tangani Warga Lansia, Antisipasi Risiko Tinggi Corona

Trenggalek - Tingginya risiko lansia terhadap bahaya COVID-19, menjadi perhatian bersama di Trenggalek, melalui program kolaborasi antara kepolisian dengan pemerintah daerah melalui pemeriksaan kesehatan keliling ke berbagai desa.  

Kapolres Trenggalek AKBP Doni Satria Sembiring, mengatakan program Harmonis Mantap atau Harapan Masyarakat Optimis untuk Hidup Sehat dilakukan dengan berkeliling diberbagai pelosok desa di Trenggalek dan menyasar para lansia yang berusia di atas 60 tahun. 

"Skemanya adalah memeriksa lansia di atas 60 tahun, sehingga mereka tahu penyakit yang sedang dialami," kata Doni, Selasa (4/5/2021). 

Dengan tahu penyakit yang diderita, maka para lansia bisa mengambil langkah penanganan sesuai dengan arahan dari dokter maupun para medis. "Dalam program ini, para lansia kami kumpulkan dan diperiksa satu persatu, sehingga mereka tidak perlu ke layanan kesehatan," jelasnya. 

Lanjut dia, program ini merupakan salah satu bentuk mitigasi yang dilakukan kepolisian dan pemerintah daerah, guna mengetahui tingkat risiko para lansia di daerahnya. 

Sehingga dinas kesehatan selaku pemangku kewenangan bisa segera malakukan intervensi kepada lansia berisiko tinggi tersebut dengan program-program yang telah ada. 

"Pemeriksaan Harmonis Mantap ini, mulai dari tekanan darah, berat badan, cek kadar gula, serta berbagai keluhan masyarakat lainnya," ujarnya. 

Dalam setiap kali pemeriksaan, pihaknya juga menyediakan berbagai obat-obatan untuk para lansia itu. 

"Kami akan berupa untuk melakukan program ini secara berkesinambungan, dua minggu sekali keliling ke desa-desa," imbuh Doni. 

Sementara itu Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin, mengatakan program yang digagas kepolisian tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam menyehatkan masyarakat. Terutama terkait meminimalisir risiko akibat COVID-19. 

"Ini adalah untuk mendeteksi dini terkait potensi kesehatan. Harapannya dengan dicek kesehatan secara gratis, mengetahui penyakit yang diderita, kemudian ditangani oleh dokter untuk mengubah pola-pola hidupnya, menu makanan, kegiatannya dan sebagainya," kata Arifin. 

Sehingga diharapkan tidak muncul penyakit yang lebih parah dengan fatalitas tinggi. Terlebih dari hasil pendataan di Trenggalek, penyakit bawaan yang paling banyak menyebabkan Kematian setelah terpapar COVID-19 adalah diabetes dan hipertensi. 

"Sebetulnya kalau diabetes dan hipertensi bukan diakibatkan oleh bakteri atau virus, tapi adalah gaya hidup. Sehingga program ini layak untuk didukung, bahkan nanti akan disinergikan dengan program yang sehat yang beruntung," imbuhnya. (Dimas)