Showing posts with label Emil. Show all posts
Showing posts with label Emil. Show all posts

Festival Kopi Trenggalek Kenalkan Kopi Lokal Lingkar Wilis

Trenggalek - Kawasan lingkar Gunung Wilis Jawa Timur yang berada di eks Karesidenan Kediri dan Madiun memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi industri kopi lokal. Untuk mengenalkan kopi lokal berkualitas Pemerintah Trenggalek menggelar festival kopi.

Festival Kopi Trenggalek diikuti oleh para pebisnis lokal dibidang pengolahan dan pertanian kopi yang ada Trenggalek, Tulungagung, Kediri dan beberapa daerah sekitarnya. Berbagai metode dan cara pengolahan serta penyajian dikenalkan kepada masyarakat luas, mulai dari yang tradisional hingga modern. 

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, mengatakan wilayah kaki Gunung Wilis yang meliputi Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Madiun, Ponorogo dan sekitarnya memiliki potensi sumbar daya alam berupa kopi yang telah ada sejak zaman Belanda. 

Cita rasa yang khas menjadi hal yang menarik untuk dinikmati. Di Trenggalek misalnya, kali ini sedang digalakkan pengenalan kopi Vann Dilem , kopi yang berasal dari lereng Wilis di Kecamatan Bendungan.

selain itu juga ada kopi Sendang Tulungagung. Kopi dari lereng Wilis sisi tenggara tersebut mulai dikelola secara profesional dengan mendapatkan pendampingan dari para ahli kopi. 

Dalam fesvital kopi tersebut juga digelar beberapa kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan para penyaji kopi melalui kompetisi manual brewing V60, yang diikuti oleh para barista di eks Karesidenan Kediri. 

"Ini adalah salah satu upaya untuk mengenalkan budaya inovasi mulai hulu hingga hilir dari industri kopi itu sendiri. Terlebih Trenggalek merupakan tuan rumah dari taman teknologi pertanian di kawasan Mataraman untuk kopi dan sapi perah," kata Emil, Minggu (21/10/2018) malam. 

Diharapkan dengan berbagai kegiatan di bidang industri kopi tersebut mampu menggugah pelaku usaha dibidang kopi lokal di Trengglek maupun sekitarnya untuk melakukan inovasi, sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik. 

Pihaknya optimistis, perkembangan industri kopi lokal akan berdampak langsung terhadap peningkatan potensi wisata di daerah sekitarnya. Untuk mendukung itu pemerintah terus berupaya menggenjot pembangunan terutama akses jalan di kawasan kali Gunung Wilis. 

"Alhamdulillah untuk sektor Trenggalek mulai dari batas Tulungagung dan Ponorogo jalannya tahun ini sudah bagus. Kami punya komitmen dengan daerah sekitar untuk bersama-sama memajukan lingkar Wilis ini," ujar Emil. 

Ditambahkan, selain kaki lereng WIlis, beberapa daerah pegunungan di pesisir selatan Trenggalek juga berpotensi menjadi pusat pengembangan perkebunan kopi baru di wilayah Mataraman. Bahkan beberapa petani mulai melakukan penanaman kopi. 

Namun, potensi besar tersebut bukan berarti tanpa halangan. Perjuangan membangkitkan produksi kopi lokal saat ini ternyata perjuangan ekstra, karena saat ini banyak perkebunan kopi yang telah tua, sehingga perlu mendapatkan peremajaan. 

"Selain itu kemampuan para petani kopi juga masih sangat rendah, sehingga dibutuhkan proses pendampingan dari para pakar maupun ahli di bidang kopi. Kami terus melakukan proses pendampingan itu di beberapa wilayah seperti Bondowoso, Jember, kemudian Sendang Tulungagung. Nah kedepan ini akan kami kembangkan lagi termasuk di Trenggalek dan Wonosalam," kata Kepala Bank Indonesia Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah. 

Pihaknya menilai industri kopi akan memiliki masa depan yang cerah, karena jumlah peminat kopi di Indonesia maupun dunia terus mengalami perkembangan yang cukup pesat. Di Jawa Timur sendiri sektor perkopian juga terus mengalami perkembangan yang menggembirakan, bahkan Kabupaten Bondowoso telah memproklamirkan diri sebagai republik kopi atau sentra kopi terbesar di Jawa Timur. 



Pungli Jaspel Sejak Awal 2018, Terkumpul Ratusan Juta


Trenggalek - Penyidik Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Trenggalek menduga praktik dugaan pungutan liar (pungli) terhadap jasa pelayanan (jaspel) para pegawai Puskesmas Pule telah dilakukan sejak awal 2018.

Kanit Tindak Pidana Korupsi Satreskrim Polres Trenggalek, Iptu Eko Widiantoro, mengatakan dari hasil pemeriksaan awal diketahui proses pungutan iuran dari potongan anggaran jasa pelayanan telah terjadi mulai awal tahun. Itu dibuktikan melalui catatan yang disita Polisi.

"Untuk triwulan pertama tahun ini terkumpul Rp72.425.904, kemudian triwulan kedua sebanyak Rp41.336.000. Sementara itu pada triwulan ketiga ini baru terkumpul Rp28.719.000," kata Eko Widiantoro, Jumat (19/10/2018).

Dari tiga kali proses pungutan itu terkumpul anggaran senilai Rp142.480.904. Uang hasil pungutan itu selanjutnya digunakan untuk berbagai kegiatan yang tidak semestinya serta diduga juga untuk kepentingan pribadi.

Perwira pertama ini menambahkan, proses pemotongan anggaran jasa pelayanan itu tidak dikakukan saat penyerahan kepada pegawai, namun dipungut ke masing-masing penerima jaspel setelah anggaran masuk rekening.

"Jadi setelah anggaran diterima oleh masing-masing pegawai, selanjutnya mereka menyetorkan potongan 10 persen kepada tim teknis, sesuai dengan nominal yang ada dalam amplop kosong," jelas Eko.

#polrestrenggalek #ottpungli #beritatrenggalek

Polisi Trenggalek OTT Pungli Jaspel Puskesmas, Sita Puluhan Juta

Barang bukti dugaan pungli Puskesmas Pule Trenggalek (www.trenggalekkita.com)
Trenggalek - Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Trenggalek melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) tujuh pegawai Puskesmas Pule terkait dugaan pungutan liar (pungli) dana jasa pelayanan (Jaspel).

Kapolres Trenggalek, AKBP Didit Bambang Wibowo Saputra, mengatakan OTT dilakukan pada 17 Oktober lalu. Dalam kasus ini pihaknya mengamankan barang bukti uang tunai Rp 28.719.000 dari dua pegawai.

"Selain itu ada juga barang bukti berupa buku catatan pengelolaan iuran jasa pelayanan, komputer dan beberapa barang bukti lain," kata Didit, Jumat (19/10/2018).

Menurutnya, dugaan pungli dilakukan secara periodik setiap tiga bulan sekali. Anggaran jaspel yang berasal dari dana kapitasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan anggaran pemerintah lainnya, yang seharusnya diterimakan kepada 65 pegawai diduga dipotong 10 persen.

Nominal pemotongan berbeda-beda disesuaikan dengan golongan dan kepangkatan masing-masing pegawai. Saat dilakukan penyitaan, uang tunai tersebut dimasukkan dalam 48 amplop lengkap dengan identitas pegawai yang menyetorkan, termasuk nominal potongan.

"Jadi modusnya, uang jaspel ditransfer ke masing karyawan yang menerima, kemudian di Puskesmas tersebut ada tujuh orang pegawai yang menamakan dirinya tim teknis bertugas melakukan pemungutn kepada masing-masing karyawan," ujar Didit.

Proses pengumpulan pungutan dana 10 persen dari jaspel itu dilakukan secara terang-terangan. Tim teknis menyediakan amplop kosong yang bertuliskan nama pegawai, NIP, besaran jaspel serta nominal 10 persen yang harus disetor.

Selanjutnya amplop tersebut diedarkan kepada para penerima untuk diisi dengan uang sesuai dengan nominal yang tertera. Dana potongan tersebut kemudian dikumpulkan menjadi satu dan digunkaan untuk berbagai kegiatan diluar peruntukan semestinya dan diduga digunakan untuk kepentingan pribadi.

Dalam kasus ini, Polisi masih belum menetapkan tersangka karena masih dalam tahap pemeriksaan para saksi. "Kami masih mencari siapa sebetulnya orang yang menginisiasi atau memerintahkan," kata Kapolres Trenggalek Didit.


#trenggalek #polrestrenggalek #OTTtrenggalek #beritatrenggalek

Kementerian PUPR Tambah Armada Tangki Untuk Atasi Kekeringan Trenggalek

Trenggalek - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyerahkan bantuan dua unit mobil tangki untuk menambah armada distribusi bantuan air bersih kepada ribuan warga yang terdampak bencana kekeringan. 

Penata Badan Negara Satker Darurat Bencana Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR Catrina Doris, mengatakan bantuan tersebut merupakan respon cepat dari instansinya  terhadap tanggap darurat kekeringan yang melanda puluhan desa di Trenggalek. Pihaknya berharap dua armada tangki yang diserahkan tersebut dapat menunjang proses pengiriman bantuan air. 

"Sesuai dengan proposal yang disampaikan oleh Pak Bupati Emil, kami dari Dirjen Cipta Karya langsung menindaklanjuti dengan mengirimkan dua unit mobil tangki ini," kata Catrina Doris, Kamis (18/10/2018). 

Pihaknya mengaku, kondisi krisis air di Indonesia tahun ini cukup banyak, sehingga kementerian harus memilah alokasi bantuan truk tangki disesuaikan dengan kondisi daerah mengalami kekeringan. 
 
Sementara itu Bupati Trenggalek, Emil Elestianto, mengatakan bantuan mobil tangki tersebut sangat dibutuhkan masyarakat di wilayahnya, mengingat saat ini kondisi kekeringan semakin parah dan menyebar di 43 desa di 13 kecamatan. 

"Kami bersyukur karena mendapatkan perhatian langsung dari Kementerian PUPR. Nanti kami sudah menyiapkan segala sesuatunya, anggaran, tenaga dan sebagainya. Kami jamim truknya tidak akan menganggur akan memutar terus untuk melakukan pelayanan kekeringan," ujar Emil. 

Bupati menjelaskan, distribusi bantuan air bersih ke puluhan desa di Trenggalek selama ini membutuhkan perjuangan ekstra, karena jumlah armada yang dimiliki PDAM maupun BPBD tidak sebanding dengan jumlah daerah yang terdampak krisis air. 

Saat ini proses pelayanan bantuan air dikirim oleh PDAM menggunakan 10 armada tangki, terdiri delapan unit milik PDAM dan dua unit pinjaman sari BPBD. Dengan tambahan dua unit tersebut jumlah armada distribusi menjadi 12 unit. 

"Sebelumnya kami sudah berupaya untuk menyewa tangki dari swasta tapi tidak ada, kemudian kami juga memodifikasi mobil pickup dengan tandon air, tapi juga kurang maksimal, karena keamanannya kurang apabila untuk daerah sulit,"  jelas Emil Dardak. 

Untuk memaksimalkan pengiriman bantuan air bersih, pihaknya melakukan zonasi dengan titik layanan yang telah ditentukan oleh PDAM. Beberapa titik zonasi adalah Watulimo, Panggul, Munjungan dan Trenggalek. 

"Jadi ada dua mobil yang standby di Panggul untuk melayani Panggul dan Kecamatan Dongko, kemudian ada yang di Watulimo, sedangkan di wilayah utara juga standby beberapa armada untuk melayani wilayah Kecamatan Trenggalek, Bendungan, Tugu, Suruh maupun daerah sekitarnya" imbuh suami pesohor Arumi Bachsin ini. 

Dengan pembagian wilayah itu diharapkan akan mempercepat proses pengiriman bantuan. Sedangkan terkait anggaran, pemerintah memastikan telah memanfaatkan Biaya Tidak Terduga (BTT) pada APBD 2018, besarannya diperkirakan mencapai Rp1,02 miliar. 

#Trenggalek #kekeringantrenggalek #krisisair

Ngopi, Cara Emil Ngantor di Desa

Trenggalek - Menjelang berakhirnya masa kepemimpinannya di Trenggalek pascaterpilih sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih, Emil Emil Elestianto Dardak gencar berkomunikasi dengan para kepala desa melalui program Ngopi (Ngobrol Pintar), apa tujuannya ? 

Ngobrol Pintar tersebut digelar secara periodik dengan sejumlah kepala desa dan tokoh masyaraka yang dikumpulkan di salah satu lokasi dengan melibatkan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemkab Trenggalek. 

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, mengatakan kegiatan Ngopi tersebut merupakan salah satu implementasi dari janji kampanye untuk ngantor di desa. Pihaknya mengklaim, Ngopi bersama para kepala desa itu bukan sekedar ngobrol yang tidak ada artinya, namun justru melakukan pembahasan persoalan penting yang perlu segera ditindaklanjuti. 

"Ini juga sekaligus kesempatan saya untuk mengetahui berbagai perkembangan-perkembangan selama saya cuti (kampanye pilgub), tentunya saya juga diskusi dengan Pak Wabup, beliau sudah ikut di Ngopi di Tugu dan Watulimo, sedangkan saya di Panggul dan Munjungan sini," kata Emil Dardak, Senin (6/8/2018). 

Dalam program tersebut pihaknya mengumpulkan 10 hingga 15 topik yang paling penting untuk dilakukan pembahasan secara serius dan mendalam, sehingga bisa dicarikan solusi dengan cepat dan tepat. 

"Kemudian satu demi satu topik itu kami kupas bersama-sama, sehingga solusi yang didapatkan itu tidak hanya dari pemerintah saja, tapi juga bisa datang dari tokoh masyarakat maupun teman-teman kepala desa," ujar Emil. 

Calon Wakil Gubernur Jatim terpilih ini menjelaskan, beberapa pembahasan yang dilakukan diantaranya menyangkut kondisi jalan kabupaten, bencana kekeringan, pasar desa, embung hingga berbagai persoalan lain, sesuai dengan persoalan di masing-masing wilayah. 

Emil mengaku, selain memecahkan persoalan, pihaknya juga menemukan beberapa program yang belum berjalan maksimal, salah satunya terkait ambulan untuk Puskesmas Pembantu (Pustu), dimana keberadaannya saat ini justru lebih banyak berada di Puskesmas induk di kecamatan. 

"Dengan Ngopi ini saya juga jadi tahu, ternyata ambulan sayang desa untuk pustu ini justru ngendonnya di Puskesmas kecamatan," imbuhnya. 

Bapak dua anak ini menambahkan, pembangunan infrastruktur di masing-masing dilayah juga tidak luput dari pembahasan yang dilakukan. Pihaknya optimistis dengan dialog secara terbuka tersebut pihaknya bisa mendapatkan input yang baik serta memberikan penjelasan yang gamblang kepada masing-masing jajaran di bawahnya. 

"Di sini kami juag mendapatkan masukan terkait dengan keberadaan jalan yang akan dibagun sebagai Jalur Lintas Pantai Selatan (Pansela) bisa terancam amblas apabila truk-truk bertonase besar dari sebuah tambang tetap dibiarkan," jelasnya. 

Melalui dialog tersebut, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) diminta untuk membuat rekapitulasi persoalan dan berbagai masukan yang telah didapatkan, guna dikomunikasikan dengan OPD terkait. 

foto : Dok Humas Pemkab Trenggalek 


Emil Tak Akan Hadiri Penetapan Calon Terpilih, Kenapa ?

Trenggalek - Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memastikan diri tidak bisa menghadiri acara penetapan pasangan calon terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. 

Emil mengaku, penetapan pasangan calon terpilih yang diperkirakan akan digelar setelah penerbitan buku register gugatan di Mahkamah Agung tanggal 23 Juli mendatang bersamaan dengan kegiatannya dengan Bloomberg Harvard City Leadership Initiative di New York, Amerika Serikat.

Menurutnya kehadirannya dalam rankaian kegiatan di Amerika itu telah mendapatkan izin dari Gubernur sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Soekarwo serta calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa. 

"Terima kasih kepada ibu Khofifah dan Pakde Karwo atas nama masyarakat Trenggalek, karena kehadiran saya untuk bergabung bersama 39 kepala daerah lainnya di New York selama beberapa hari adalah syarat untuk Trenggalek bisa menjadi daerah yang mendapat pendampingan Harvard University dalam mendorong inovasi daerah," kata Bupati Trenggalek, Emil Dardak melalui siaran pernya, Kamis (19/7/2018). 

Emil berharap kemitraan yang terjalin antara Pemkab Trenggalek dengan Universitas Harvard dan Bloomberg Initiative dapat membawa dampak nyata terhadap inovasi pembangunan di daerah yang dipimpin. Terlebih Trenggalek merupakan satu-satunya daerah di wilayah Asia yang terpilih dalam program itu. 

Kegiatan yang digagas Universitas Harvard dan perusahaan Bloomberg milik mantan Walikota New York, Michael Rubens Bloomberg itu mereka memilih 40 daerah dan kepala daerahnya yang memiliki rumusan pola tata kelola pemerintahan maupun inovasi daerah secara global. 

Sementara itu terkait proses penetapan calon kepala daerah terpilih yang akan dilakukan KPU Jawa Timur, Emil berharap bisa berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. 

Sebelumnya, hasil rekapitulsi suara Pilgub Jatim 2018, KPU Jawa Timur menetapkan perolehan suara pasangan calon Khofifah-Emil unggul dengan memperoleh 10.465.218 suara (53,55%), sedangkan paslon Gus Ipul-Puti 9.076.014 suara 46,45% atau selisih 7,11%. 

Keren, Trenggalek Satu-satunya Wakil Asia Ikuti Program Harvard

Trenggalek - Kabupaten Trenggalek terpilih sebagai satu-satunya daerah di Indonesia untuk mengikuti program inovasi dan tata kelola pemerintahan tingkat dunia yang digelar di News York, Amerika Serikat. 

Dalam program yang diselenggerakan oleh Bloomberg Harvard City Leadership Initiative tersebut, Trenggalek akan bergabung dengan berbagai kota ternama di seluruh belahan dunia, untuk mendapatkan pendampingan selama setahun penuh. 

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, daerahnya ditunjuk langsung oleh Universitas Harvard setelah dilakukan seleksi ketat dengan berbagai daerah lain. Dalam proses itu ia diminta untuk membuat esai dan pemaparan tentang konsep inovasi yang sudah maupun akan dilakukan. 

"Kebetulan itu terjadi saat saya melakukan cuti kampanye kemarin, seleksinya itu by invitation only, artinya yang diundang itu hasil penelusuran Bloomberg dan Universitas Harvard. Saya diminta untuk membuat esai itu dan Alhamdulillah diterima," ujarnya, Senin (16/7/2018).

Ia menilai kegiatan tersebut cukup spesial, karena dari 40 kota yang terpilih hanya Kabupaten Trenggalek yang berkesempatan untuk mewakili Indonesia, bahkan merupakan satu-satunya daerah dari kawasan Benua Asia. 

Suami Arumi Bachsin ini menambahkan, dalam program yang digagas Universitas Harvard dan perusahaan Bloomberg milik mantan Walikota New York, Michael Rubens Bloomberg itu mereka memilih daerah dan kepala daerahnya yang memiliki rumusan pola tata kelola pemerintahan maupun inovasi daerah secara global. 

"Melalui inisiatif ini, maka Harvard akan mendampingi selama setahun daerah-daerah untuk diupgrade oleh senior-seniornya dan dikolaborasikan dengan 40 daerah dari seluruh dunia yang terpilih," kata Emil. 

Pada tahap pertama, Calon Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih ini terbang langsung ke New York untuk mendapatkan pembekalan dari Universitas Harvard dan Bloomberg. Selanjutnya ia juga akan menunjuk dua pejabat di daerahnya untuk mengikuti program tersebut pada Agustus mendatang.

"Program sudah dimulai sejak 22 Mei lalu dan terus berlanjut. Selama program berjalan akan dilakukan kolaborasi melalui sistem IT mereka yang dinamakan Global Exchange," imbuhnya. 

Pihaknya berharap terpilihnya Trenggalek akan memberikan dampak positif terhadap program pengembangan, inovasi dan mampu menggenjot motivasi para aparatur pemerintah untuk bekerja secara maksimal dalam memajukan daerah. 

Foto : Humas Trenggalek 

Ngopi Bareng Emil dan Pemuda, Zulkifli Ingatkan Warga Coblos Nomor 1

Trenggalek - Partai Amanat Nasional (PAN) akan bekerja semaksimal mungkin untuk memenangkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah-Emil Dardak. 

Dalam safari politiknya di Trenggalek, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan bertemu langsung dengan Emil Dardak dan sejumlah pemuda dan anggota komunitas media sosial di Warung Kopi Hutan Kota (Huko). Pihaknya menilai paslon Khofifah-Emil merupakan pilihan yang tepat untuk menjadi pemimpin Jawa Timur lima tahun kedepan. 

"Karena maju dan tidaknya Jawa Timur itu tergantung yang mengurus, siapa yang berkualitas ya ini Pak Emil dan Bu Khofifah," kata Zulkifli Hasan, Selasa (24/8/2018). 

Menurutnya selama melakukan kunjungan politik di sejumlah daerah di Jawa Timur, pihaknya melihat pintu kemenangan Khofifah-Emil cukup besar. Bahkan di wilayah pulau Madura pihaknya optimistis akan menang mutlak. 

"Saya tidak menyangka Madura itu, mungkin mutlak menangnya. Cuma memang perlu dijaga saksinya diperkuat, apalagi daerah-daerah lain. Sedangkan di Blitar juga kuat, tapi memang perlu penanganan khusus," ujar Zul. 

Kondisi itu dipengaruhi karena Kabupaten dan Kota Blitar merupakan salah satu kantong pendukung dari PDI Perjuangan yang saat ini mengusung pasangan Saifullah Yusuf-Puti. Sedankan beberapa daerah lain yang dikunjungi juga menunjukkan animo yang cukup baik. 

"Ini nanti ke Ponorogo, Pacitan kemduian ke Madiun. Hari ini ubek-ubek Mataraman dulu. Kalau dulu Pakde sekarang Budhe," ujarnya saat di warung Huko Trenggalek.

Sementara itu Jawagub Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan, Ketua Umum PAN sengaja diajak bertemu para pemuda dan komunitas media sosial di Trenggalek. Karena pemuda dinilai merupakan aset bangsa yang harus mendapatkan perhatian dari pemerintah secra berkelanjutan. 

"(Bertemu) Pemuda ini bukan hanya sekedar untuk momen politik sementara atau sesaat, tapi ini harus berkelanjutan. Makanya kami ajak bertemu dengan teman-teman pemuda yang punya komunitas dan sudah  berpartisipasi dalam pembangunan," kata Emil. 


Emil Dardak Luruskan Persoalan Stunting

 Trenggalek - Bupati Trenggalek nonaktif Emil Elestianto Dardak mengaku daerah yang dimpimpinnya memiliki kasus stunting, namun pihaknya membantah jika dikatakan sebagai yang terburuk di Jawa Timur. 

Emil mengatakan Trenggalek masuk dalam 100 kabupaten/kota yang di Indonesia yang mendapatkan prioritas dalam percepatan pengentasan masalah stunting pada tahun 2018. Sedangkan tahun berikutnya juga akan ditetapkan daerah-daerah lain yang masuk dalam prioritas penanganan stunting. 

"Tidak ada dokumen yang menyatakan Trenggalek sebagai kabupaten stunting, yang ada adalah 100 daerah yang ikut dalam penanganan stunting 2018, tahun 2019 juga ada roadmap-nya 160 daerah, tahun berikutnya 340 daerah," kata Emil melalui sambungan telepon, Sabtu (14/4/2018). 

Lebih lanjut Emil Dardak menjelaskan, kabupaten maupun kota yang masuk dalam prioritas pengentasan stunting tahap awal ini bukan berarti merupakan daerah yang memiliki kasus terbesar maupun terburuk, karena program penanganan diakukan secara bertahap. 

"Kalau dijlentrehkan (rinci) statistiknya, kondisi terburuk di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat itu tidak sesuai dengan yang diikutsertakan. kenyataannya ada stunting, memang iya, kita ini setiap hari berjibaku engan masalah stunting, semua kepala daerah termasuk di Surabaya," ujar suami Arumi Bachsn ini. 

Cawagub Jatim nomor urut satu ini menambahkan, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. Konndisi itu terjadi akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. 

"Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Stunting ini tidak selalu orang miskin, tapi karena pola hidup ibunya waktu hamil,malah mungkin banyak diantara teman-teman kita yang tergolog katanya stunting padahal agak pendek saja," jelas Emil. 

Meski demikian pihaknya prihatin dengan kondisi stunting di Indonesia, hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat hingga daerah. Ia juga mengajak semua elemen masyarakat untuk proaktiv berperan serta dalam penanganan stunting. 

"Kami mendukung upaya penanganan stuting ini, di Trenggalek juga demikian, pemerintah daerah juga melakukan hal yang sama. Ini adalah persoalan bersama yang harus diselesaikan," imbuh Emil Dardak. 

Sedankan terkait temuan konisi sanitasi dan lingkungan masyarakat yang dinilai kurang layak,ia juga tidak menampiknya. Hal itu lazim terjadi di berbagai daerah, namun buka berarti pemerintah tinggal diam terkait kondisi itu. 

"Seperti katakanlah untuk masalah rumah yang tidak layak huni, maka pemerintah akan melakukan intervensi berupa bedah rumah, kemudian masalah sanitasi, kami juga melakukan pembangunan MCK komunal di berbagai tempat," jelas pria 34 tahun ini. 

Dikatakan, persoalan sanitasi dan tabiat warga yang buang air besar di sungai bukan hanya menyangkut persoalan kemiskinan, namun juga terkait dengan kebiasaan dari lingkungan. 

"Bahkan di wilayah kecamatan kota saya juga menemukan kebiasaan warga yang buang air besar di sungai. Nah persoalan inilah yang kami coba lakukan penanganan dengan mengubah pola pikir dan kebiasaan," imbuh Emil. 

Sedangkan menyangkut perdebatan stunting di Desa Kayen, Trenggalek saat berhadapan dengan Puti Guntur, Cawagub pendamping Khofifah ini memastikan jajarannya di pemerintahan telah serius melakukan penanganan. Ia tidak rela kerja kerasnya dan seluruh jajaran pemerintahan seakan diabaikan begitu saja. 

"Kalau anda pernah memimpin ribuan abdi negara, tentu hati anda akan sangat tergerak manakala kerja keras mereka dipertanyakan dan tidak bisa didasari data pendukung yang memadai. Bahkan balita yang dimaksud beliau di debat kemarin, dimana beliau mungkin lupa namanya adalah Melinda, sudah mendapatkan penanganan gizi dan kini dinyatakan lulus serta masuk tahap pemantauan karena tingginya telah tumbuh pesat mendekati ambang batas normal," tegas Emil

Begini Kondisi Lingkungan Stunting Yang Diperdebatkan

Trenggalek - Desa Kayen, Kecamatan Karangan Trenggalek mendadak menjadi perbincangan hangat pascadebat sengit antara Emil Elestianto Dardak dan Puti Guntur Soekarno dalam debat publik yang digelar KPU. 

Kedua Calon Wakil Gubernur tersebut terlibat perdebatan terkait kondisi Desa Kayen yang ditetapkan sebagai desa stunting oleh Pemerintah Pusat. Lantas seperti apa kondisi permukiman dan sanitasi di kawasan tersebut. 

Trenggalekkita.com sempat mengunjungi desa tersebut beberapa waktu yang lalu. Desa ini berada sekitar 11 kilometer dari pusat kota Trenggalek, sekilas tidak ada yang berbeda dengan desa-desa di daerah lain.  

Namun di lingkungan yang terdapat balita stunting sedikit berbeda, kawasan ini berada di lereng perbukitan kecil. Sedangkan akses masih relatif mudah, karena dilengkapi dengan jalan rabat atau cor beton. 

Salah seorang warga, Warsini mengaku perbedaan lingkungannya dengan kawasan lain adalah kondisi sanitasi serta pasokan air. Di lingkungan sekitar rumahnya masih banyak warga yang belum memiliki jamban untuk buang air besar. 

"Kalau di sekitar sini sekitar 10 rumah, buang air besarnya di sungai, jarak ke sungai ada yang dekat ada juga yang jauh," katanya. 

Menurutnya, kebiasaan sebagian warga untuk buang air besar ke sungai sudah terjadi sejak lama. Beberapa warga belum memiliki jamban sendiri karena berbagai persoalan, mulai dari faktor ekonomi hingga minimnya pasokan air bersih. 

"Kalau daerah sini pasokan air agak sulit, apalagi kalau musim kemarau," ujar Warsini. 

Ibu muda ini menjelaskan, di saat musim kering tiba, beberapa warga biasanya harus berburu air bersih ke beberapa mata air yang ada di sekitar desa. Langkah itu terpaksa dilakukan karena air yang biasanya bisa dialirkan hingga ke rumah telah mengering. 

Sementara itu kondisi kamar mandi yang dimiliki warga juga bervariasi, beberapa warga telah memiliki MCK yang memadai, namun sebagian yang lain masih cukup sederhana.

Di rumah Kuriah dan Warsini misalnya, tidak memiliki kamar mandi yang memadai, tempat yang digunakan untuk mencuci dan mandi seluruh anggota keluarga berada di depan rumah dan berdinding kain-kain bekas. Sedangkan bak mandi terbuat dari tembok sederhana. 

Kondisi sanitasi dan lingkungan yang kurang layak tersebut dinilai oleh Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno sebagai salah satu pemicu terjadinya stunting dan kekurangan gizi. 

Sementara itu, terkait potret sanitasi itu Pemkab Trenggalek memastikan akan memberikan perhatian serius. Plt Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, pihaknya berencana akan membangun MCK komunal yang bisa daimanfaatkan oleh beberapa warga sekaligus.